InfoMigas.id–Washington DC | Amerika Serikat (AS) secara resmi memulai penjualan minyak mentah milik negara Venezuela setelah menyelesaikan transaksi pertama senilai USD 500 juta atau sekitar Rp 8,4 triliuni Ini menjadi bagian dari strategi baru Washington terhadap aset energi Venezuela pascapenangkapan Presiden Nicolas Maduro awal Januari lalu.
Menteri Energi AS AS, Chris Wright menyebutkan penjualan perdana ini telah rampung dan menjadi langkah awal dari rencana pemanfaatan cadangan minyak Venezuela. Lebih jauh, penjualan tambahan diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa hari hingga pekan ke depan sejalan dengan rencana pemerintah AS untuk terus memasarkan minyak negara Amerika Selatan itu ke pasar internasional.
Chris Wright mengatakan, pihaknya sukses menjual minyak Venezuela dengan harga sekitar 30 % lebih tinggi dibanding periode sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa nilai pasar yang relatif kuat meski kondisi geopolitik masih bergejolak.
Upaya penjualan ini terjadi di tengah dorongan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menarik minat perusahaan energi besar masuk kembali dalam pemulihan sektor energi Venezuela, termasuk rencana investasi puluhan miliar dolar untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak. Namun pertemuan pejabat Gedung Putih dengan eksekutif industri energi AS pekan lalu belum menghasilkan komitmen signifikan dari pelaku usaha untuk menanamkan modal besar dalam waktu dekat.
Selain itu, AS juga mempercepat pemberian izin ekspansi untuk perusahaan-perusahaan besar seperti Chevron agar dapat memperluas kegiatan produksi di Venezuela, termasuk opsi pembayaran dalam bentuk tunai yang dianggap dapat memperkuat output dan kegiatan ekspor minyak mentah.
Di sisi lain, perkembangan politik di Venezuela pascapenangkapan Maduro terus berlangsung. Pejabat sementara Venezuela, termasuk Delcy Rodríguez, tengah membuka peluang bagi investasi asing di sektor minyak negara tersebut dalam upaya memperbaiki kerusakan lama dan memulihkan produksi.
Harga minyak dunia juga merespons dinamika pasokan Venezuela dan langkah AS, dengan gejolak harga akibat ketidakpastian politik dan pasar energi global.
Belum ada rincian publik lebih lanjut terkait volume minyak yang sudah dijual atau mekanisme lengkap alokasi hasil penjualan, tetapi penjualan perdana senilai USD 500 juta menunjukkan langkah awal Washington dalam mengintegrasikan minyak Venezuela ke dalam perdagangan energi global pasca pergeseran politik di Caracas.
Rencana pemerintahan Trump untuk memanfaatkan minyak Venezuela justru disambut dengan sikap ragu ragu oleh para eksekutif energi Amerika Serikat. Keraguan tersebut mencuat dalam pertemuan para petinggi perusahaan energi dengan pejabat Gedung Putih pada Jumat. CEO ExxonMobil Darren Woods secara terbuka menyampaikan hambatan besar dalam berbisnis di Venezuela. “Ini tidak dapat diinvestasikan,” kata Woods kepada para pejabat saat membahas tantangan usaha di negara Amerika Latin tersebut.[*]
*kbc/reuters/cnn/detik/kompas