InfoMigas.id – Banda Aceh | Aceh bersiap masuk babak baru pengembangan industri gas bumi. PT Pembangunan Aceh (Perseroda) atau PEMA menggandeng PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) untuk mengkaji pemanfaatan pasokan gas Blok Mubadala, langkah strategis yang digadang gadang menjadi pemicu hilirisasi migas sekaligus kebangkitan ekonomi daerah.
Direktur Pengembangan Bisnis PT PEMA, Naufal Natsir Mahmud, mengatakan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) tersebut bertujuan mempercepat hilirisasi gas sekaligus mendorong kebangkitan ekonomi Aceh.
“MoU untuk kajian bersama pemanfaatan pasokan gas Mubadala di Aceh guna mempercepat hilirisasi dan mendorong kebangkitan ekonomi daerah,” ujar Naufal, dalam laman resmi PEMA, Senin (26/1/2026).
Naufal menjelaskan, ketersediaan dan stabilitas pasokan energi menjadi faktor kunci dalam pemulihan dan pertumbuhan ekonomi Aceh, terutama di tengah proses pemulihan pascabencana. Untuk itu, PT PEMA membutuhkan mitra strategis seperti PGN dalam membangun ekosistem gas bumi yang terintegrasi di daerah tersebut.
Sinergi antara PT PEMA dan PGN diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri Aceh, menarik investasi baru, serta memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Ruang lingkup kajian bersama meliputi evaluasi potensi pasokan gas Aceh saat ini hingga proyeksi ke depan, termasuk keterlibatan Blok Mubadala.
“PT PEMA akan melakukan studi mendalam untuk pengembangan beberapa tingkatan (tier), mulai dari proyek jangka pendek hingga jangka panjang,” tambah Naufal.
Ia menegaskan, inisiatif ini menjadi langkah pertama PT PEMA sejak berdiri dalam mendorong hilirisasi gas secara terstruktur dan berkelanjutan di Aceh. Kehadiran PGN juga dinilai membuka babak baru pengembangan energi gas bumi di provinsi tersebut.
Sementara itu, Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Mirza Mahendra, menilai Aceh memiliki posisi strategis sebagai titik vital dalam mendukung ketahanan energi nasional. Menurutnya, pembangunan infrastruktur distribusi gas harus menjadi fokus utama dalam pengembangan gas bumi di wilayah tersebut.
“Infrastruktur distribusi gas, baik melalui pipa, CNG, maupun LNG, perlu menjadi perhatian. Kami memetakan kembali suplai gasnya, infrastruktur yang akan dibangun, serta pemenuhan pasar,” ujar Mirza.

Meski kajian dalam MoU tersebut direncanakan berlangsung selama dua tahun, Mirza berharap realisasi pengembangan dapat berjalan lebih cepat.
“Saya target realisasinya bisa tercapai di tahun pertama, sehingga nilai keekonomiannya dapat segera diketahui,” pungkasnya.[*]
*ril