InfoMigas.id – Jakarta | Ongkos pengangkutan minyak mentah (crude oil) dari AS diperkirakan lebih tinggi dibandingkan impor dari kawasan Timur Tengah maupun Asia Tenggara yang selama ini menjadi pemasok utama Indonesia.Hal tersebut dikatakan oleh Praktisi senior industri migas Hadi Ismoyo.
Hadi mengingatkan potensi lonjakan biaya logistik dan harga komoditas energi jika Indonesia meningkatkan impor minyak dan gas bumi (migas) dari Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan kalkulasi Hadi, biaya logistik pengangkutan crude dari AS dapat meningkat menjadi sekitar US$1–US$3 per barel, dari rata-rata sebelumnya sekitar US$0,7 per barel.
“[Pemerintah] perlu mengkaji dengan saksama harga komoditas energi tersebut di AS, dengan mengesampingkan logistic cost. Apakah harga komoditas energi tersebut sama atau lebih murah dari Asia Tenggara dan Timur Tengah?” ujar Hadi yang juga Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC), Selasa (24/2/2026).
Jarak dan Asuransi Jadi Faktor
Hadi menjelaskan, kenaikan ongkos logistik dipengaruhi oleh jarak pengiriman yang lebih jauh dibandingkan dengan tempat sebelumnya dan biaya pengapalan serta premi asuransi yang lebih tinggi.

Ia menambahkan, besaran biaya sangat bergantung pada titik pengapalan di AS, apakah dari pesisir Barat atau Timur.
“Data yang kami punya, logistic cost bisa naik dari rata-rata US$0,7/barel menjadi rata-rata US$1–US$3 per barel,” kata Hadi yang dikutip BloombergTechnoz.
Dengan volume impor minyak mentah Indonesia yang cukup besar, kenaikan biaya per barel berpotensi berdampak signifikan terhadap total biaya pengadaan energi nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume impor minyak mentah (HS 27090010) sepanjang 2025 mencapai 15,99 juta ton, naik dari 15,27 juta ton pada 2024.
Sebelumnya, impor crude tercatat 17,03 juta ton pada 2023, 14,12 juta ton pada 2022, dan 12,10 juta ton pada 2021.
Risiko ke Harga BBM dan LPG
Hadi juga mewaspadai potensi dampak lanjutan terhadap harga liquefied petroleum gas (LPG) dan bahan bakar minyak (BBM) di tingkat konsumen.
Menurutnya, jika harga komoditas dan ongkos logistik dari AS lebih mahal, maka beban tersebut pada akhirnya bisa memengaruhi harga jual energi domestik, kecuali pemerintah memutuskan untuk menyerap selisih biaya tersebut.
“Logistic cost yang lebih mahal pada akhirnya akan memengaruhi harga energi di tingkat konsumen. Kecuali pemerintah menanggung perbedaan cost dari harga yang lama,” paparnya.
Respons Pemerintah
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah akan menggeser sebagian porsi impor migas dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika menyusul komitmen pembelian energi dari AS senilai US$15 miliar.
Bahlil menegaskan, pengalihan tersebut tidak akan menambah total volume impor Indonesia.
“Kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara; di antaranya negara dari Asia Tenggara, Middle East, maupun beberapa negara di Afrika. Secara keseluruhan, neraca komoditas daripada pembelian BBM kita dari luar negeri itu sama. Cuma kemudian kita geser,” kata Bahlil dalam konferensi pers dari Washington D.C., Jumat (20/2/2026).
Ia juga memastikan volume impor LPG, minyak mentah, dan bensin tetap dalam jumlah yang sama.
Komitmen pembelian energi tersebut merupakan bagian dari kesepakatan tarif resiprokal Indonesia–AS. Dalam dokumen yang dirilis oleh Gedung Putih, Indonesia akan mendukung dan memfasilitasi pembelian energi dari AS senilai total US$15 miliar atau sekitar Rp253,4 triliun.
Rinciannya meliputi impor LPG sebesar US$3,5 miliar, minyak mentah US$4,5 miliar, dan BBM atau bensin olahan senilai US$7 miliar.[*]
*kbc/nh/bloombergtechnoz