InfoMigas.id – Jakarta | Mayoritas analis pasar modal memilih bersikap hati-hati terhadap saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) setelah kinerja laba perseroan merosot sepanjang 2025.
Sebanyak 13 analis atau sekitar 56,5% memberikan rekomendasi hold terhadap saham PGAS. Sementara itu, sembilan analis atau sekitar 39,1% masih mempertahankan rekomendasi buy, dan satu analis atau sekitar 4,3% menyarankan sell, kutip bloomberg.
Konsensus analis memperkirakan target harga saham PGAS dalam 12 bulan ke depan berada di kisaran Rp2.025 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi pengembalian investasi yang cenderung negatif sekitar 0,7%, dengan asumsi harga saham PGAS berada di level Rp2.040 pada penutupan perdagangan Kamis (12/3/2026).
Meski demikian, secara tahunan saham PGAS telah mencatatkan kenaikan signifikan dengan pengembalian investasi sekitar 49,7% dalam 12 bulan terakhir.
Sejumlah sekuritas global seperti UBS, J.P. Morgan, dan Mandiri Sekuritas memberikan pandangan netral terhadap saham PGAS dengan target harga masing-masing Rp2.180, Rp2.100, dan Rp1.600 per saham.
Sementara itu, analis dari Morgan Stanley, Mayank Maheswari, memberikan pandangan underweight/in-line dengan target harga lebih rendah di kisaran Rp1.518 per saham.
Di sisi lain, beberapa sekuritas masih optimistis terhadap prospek saham PGAS. Yuanta Investment dan Ajaib Sekuritas tetap memberikan rekomendasi buy dengan target harga masing-masing Rp2.630 dan Rp2.500 per saham.
Sentimen Dividen
Analis J.P. Morgan menilai saham PGAS berpotensi mengalami tekanan dalam jangka pendek seiring kemungkinan penurunan dividen untuk tahun buku 2025.
Dalam riset yang disusun oleh Arnanto Januri, Benny Kurniawan, dan Sumedh Samant, rasio pembayaran dividen yang dinormalisasi sekitar 80% diperkirakan hanya menghasilkan imbal hasil dividen sekitar 5% berdasarkan harga saham terbaru.
Penurunan potensi dividen tersebut dipengaruhi oleh beban penurunan nilai (impairment) sebesar US$100 juta pada kuartal IV-2025, atau sekitar 30% dari laba inti tahunan. Beban tersebut berasal dari keputusan manajemen PGAS untuk menghapus sepenuhnya nilai aset hulu South Sesulu.
Langkah ini dinilai berpotensi menekan kemampuan perusahaan dalam membagikan dividen sesuai ekspektasi pasar.
Selain itu, Sucor Sekuritas juga menurunkan rekomendasi saham PGAS menjadi hold dengan alasan kenaikan harga saham dalam beberapa waktu terakhir telah mencerminkan prospek jangka pendek perusahaan.
Analis Sucor Sekuritas Niko Pandowo menilai ketergantungan PGAS terhadap gas alam cair (LNG) semakin tinggi sehingga memunculkan ketidakpastian terhadap dinamika volume dan margin bisnis ke depan.
Sucor menetapkan target harga berbasis discounted cash flow (DCF) sebesar Rp2.140, yang mengimplikasikan rasio price to earnings (P/E) 2026 sebesar 11 kali dan EV/EBITDA sekitar 2,4 kali.
Laba Bersih Turun Tajam
Sebelumnya, PGAS melaporkan laba bersih sebesar US$215,36 juta atau sekitar Rp3,6 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut turun 36,55% dibandingkan laba bersih 2024 yang mencapai US$339,42 juta.
Meski demikian, dari sisi pendapatan perusahaan masih mencatatkan pertumbuhan. Sepanjang 2025, PGAS membukukan pendapatan sebesar US$3,97 miliar atau sekitar Rp66,48 triliun, meningkat 4,94% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$3,78 miliar.
Corporate Secretary PGAS, Fajriyah Usman, menyatakan perusahaan terus menjaga kesinambungan pasokan gas kepada pelanggan melalui optimalisasi infrastruktur gas dan LNG.
“Kami mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur gas dan LNG serta menerapkan pengelolaan volume secara adaptif,” ujarnya dalam keterbukaan informasi.
Di sisi lain, beban pokok pendapatan juga meningkat menjadi US$3,27 miliar pada 2025, dibandingkan US$3,03 miliar pada tahun sebelumnya.
Secara operasional, PGAS mencatat volume niaga gas bumi sebesar 836 BBTUD, sementara volume transmisi gas meningkat 4% menjadi 1.609 MMSCFD seiring meningkatnya penyerapan pelanggan.
Kontribusi segmen infrastruktur LNG juga meningkat. Volume regasifikasi melalui FSRU Lampung dan Terminal Regasifikasi Arun mencapai 254 BBTUD, tumbuh 17% dan menopang keandalan pasokan gas untuk sektor industri serta pembangkit listrik.
Selain itu, perusahaan mencatat volume penyaluran minyak sebesar 174.811 BOEPD yang didorong peningkatan aktivitas pengangkutan minyak melalui jaringan pipa eksisting.
Sepanjang 2025, PGAS juga memperluas infrastruktur gas dengan menambah lebih dari 230 kilometer jaringan pipa distribusi jargas serta menjaga tingkat availability sistem operasi mencapai 98,84%.
“Keandalan penyaluran gas bumi bagi pelanggan tetap menjadi prioritas utama PGN,” kata Fajriyah.
Kontribusi anak usaha dan afiliasi juga meningkat dengan volume pemrosesan LPG sebesar 117 metrik ton per hari, naik 8%, serta pencapaian lifting minyak dan gas sebesar 17.519 BOEPD.
Pada segmen LNG trading internasional, PGAS mengirim tujuh kargo LNG atau setara sekitar 59 BBTUD ke pasar global sepanjang 2025.
Dari sisi neraca, total liabilitas PGAS hingga akhir 2025 mencapai US$2,62 miliar, terdiri dari liabilitas jangka pendek US$1,16 miliar dan liabilitas jangka panjang US$1,45 miliar.
Sementara itu, total aset perusahaan tercatat US$6,23 miliar, dengan ekuitas mencapai sekitar US$3,6 miliar.[*]
*bt/kbc/nh