InfoMigas.id | Fasilitas minyak Rusia kembali menjadi sasaran serangan Ukraina. Pelabuhan minyak Primorsk di Laut Baltik dilaporkan terbakar setelah serangan drone pada Minggu malam waktu setempat, memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global.
Gubernur wilayah Leningrad, Alexander Drozdenko, mengatakan tim tanggap darurat tengah berjibaku memadamkan api yang melalap tangki penyimpanan bahan bakar. Seluruh personel di lokasi telah dievakuasi sebagai langkah pengamanan.
Menurut otoritas Rusia, sistem pertahanan udara berhasil menghancurkan lebih dari 50 drone di wilayah tersebut. Namun, sejumlah serangan tetap berhasil mencapai target, termasuk area terminal pemuatan minyak mentah dan produk olahan di pelabuhan tersebut.
Citra satelit dari NASA menunjukkan titik api aktif di sekitar fasilitas ekspor, mengindikasikan dampak langsung terhadap infrastruktur energi strategis Rusia.
Sebagai salah satu pelabuhan ekspor utama, Primorsk memiliki peran vital dalam distribusi energi Rusia ke pasar global. Berdasarkan data Bloomberg, volume pengiriman produk minyak—terutama solar—dari pelabuhan ini mencapai sekitar 550.000 barel per hari pada Januari lalu. Gangguan pada fasilitas ini berpotensi menekan rantai pasok energi, khususnya ke kawasan Eropa.
Insiden ini bukan yang pertama. Pelabuhan Primorsk sebelumnya juga pernah menjadi target serangan, termasuk pada tahun lalu yang sempat menghambat aktivitas pemuatan minyak. Hingga kini, pihak Ukraina belum memberikan pernyataan resmi terkait serangan terbaru tersebut.
Di sisi lain, eskalasi konflik terus berlanjut. Rusia dilaporkan meluncurkan sekitar 215 drone ke wilayah Ukraina dalam satu malam, termasuk drone tempur Shahed. Meski sebagian besar berhasil ditembak jatuh, beberapa serangan menyebabkan kerusakan infrastruktur di sejumlah kota, termasuk fasilitas pelabuhan di Odesa.
Militer Ukraina juga mengklaim telah menyerang kilang minyak di Saratov yang dimiliki oleh Rosneft, mempertegas strategi Kyiv yang kini menargetkan infrastruktur energi Rusia guna melemahkan sumber pendanaan perang.
Serangan timbal balik yang kian intensif terhadap aset energi ini mulai berdampak pada pasar minyak global. Ketidakpastian pasokan meningkat di tengah konflik geopolitik yang meluas, termasuk di Timur Tengah, yang turut mendorong volatilitas harga minyak dunia.
Situasi ini menjadi perhatian pelaku industri migas, mengingat gangguan pada jalur ekspor utama seperti Primorsk dapat memicu disrupsi pasokan dan memperketat keseimbangan pasar energi global.[*]
*bt/kbc/nh