InfoMigas.id – Jakarta | Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC) Hadi Ismoyo memprediksi Indonesia tidak akan menikmati keuntungan (windwall) dari lonjakan harga minyak dan gas (migas) global akibat penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini berbeda dengan situasi yang dialami pada era Krisis Minyak tahun 1973.
Praktisi senior di industri migas ini berpendapat Indonesia saat ini justru bakal sangat dirugikan dengan melonjaknya harga minyak dunia hingga di atas US$100/barel.
Menurutnya, saat ini Indonesia sudah berubah dari negara eksportir menjadi negara importir bersih minyak mentah, sehingga posisinya mudah dipengaruhi gejolak harga dan pasokan di pasar global.
“Indonesia saat ini sangat rentan terhadap gejolak harga dan pasokan global karena sudah menjadi net importer,” kata Hadi saat yang dilansir bloombergtehcnoz, Senin (30/3/2026).
Ia mencatat, Indonesia mengimpor minyak mentah sekitar 1,2 juta barel per hari (bph) dan BBM sekitar 350.000 bph. Kondisi ini membuat tekanan terhadap neraca energi semakin besar ketika harga global melonjak.
Selain itu, sekitar 20% impor minyak mentah Indonesia melewati jalur Selat Hormuz, sehingga penutupan atau gangguan di kawasan tersebut berpotensi menekan pasokan.
“Kerugiannya adalah stok dunia berkurang dan harga menjadi fluktuatif. Artinya, kita harus siap berebut pasokan di pasar spot dan bergerak cepat mengamankan suplai,” ujarnya.
Tekanan Subsidi dan Devisa
Hadi menambahkan, meski ada potensi tambahan pendapatan dari sektor hulu migas, nilainya tidak sebanding dengan beban impor dan subsidi energi yang meningkat.
“Menikmati profit dari hulu, tetapi tidak sebanding dengan nombok impor crude. Pagu subsidi membengkak, ruang fiskal makin sempit, dan devisa terkuras,” jelasnya.
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan era Krisis Minyak 1973, ketika produksi minyak nasional mencapai 1,2 juta bph dan konsumsi domestik masih rendah. Saat itu, embargo minyak oleh negara-negara Arab dalam konteks perang Perang Yom Kippur mendorong harga minyak naik dari US$3 menjadi US$12 per barel, yang justru menguntungkan Indonesia sebagai eksportir.
Pemerintah Alihkan Sumber Impor
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyatakan pemerintah telah mengalihkan sebagian sumber impor minyak mentah dari Timur Tengah menyusul terganggunya jalur perdagangan di Selat Hormuz.
“Impor crude kita dari Middle East sekitar 20%. Sekarang kami sudah menemukan sumber baru selain dari kawasan tersebut,” ujar Bahlil.
Berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN) dan BPH Migas, impor minyak mentah Indonesia pada 2025 telah terdiversifikasi, antara lain berasal dari Nigeria (25%), Angola (21%), Arab Saudi (19%), Brasil (9%), dan Australia (8%), serta negara lain seperti Gabon, Amerika Serikat, dan Malaysia.
Untuk impor BBM, Indonesia masih bergantung pada pasokan dari Singapura dan Malaysia, serta sejumlah negara lain seperti China, Korea Selatan, India, Jepang, dan Uni Emirat Arab.
Harga Minyak Terkerek Konflik
Kenaikan harga minyak dunia dipicu meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, termasuk keterlibatan kelompok Houthi di Yaman dalam konflik regional yang memicu kekhawatiran eskalasi lebih luas.
Pada perdagangan terbaru, harga minyak Brent untuk pengiriman Mei tercatat naik 1,8% menjadi US$114,65 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 0,9% menjadi US$100,55 per barel.
Kondisi ini mempertegas tekanan terhadap negara-negara importir energi seperti Indonesia yang harus menghadapi lonjakan biaya impor di tengah ketidakpastian pasokan global.[*]
*bt/kbc/nh