InfoMigas.id – Jakarta | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, membuka peluang pembahasan lanjutan investasi perusahaan migas Rusia, PJSC Rosneft Oil Company, dalam proyek Grass Root Refinery (GRR) atau Kilang Tuban.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil merespons kabar rencana kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia dalam waktu dekat. Bahlil menyebut peluang pembahasan investasi tetap terbuka apabila kunjungan ke Moskwa benar terealisasi.
“Yang bilang berangkat ke Rusia siapa ya? Oh itu kan kerja sama perusahaan Rusia. Rosneft itu kan di (proyek Kilang) Tuban. Rosneft dengan Pertamina membangun satu kilang di sana. Nah, mungkin itu salah satu yang akan bisa kita follow up, tetapi itu kan B2B (business to business),” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (10/4/2026).
Sementara itu, pihak Kremlin melalui juru bicara Dmitry Peskov menyatakan bahwa Rusia tengah melakukan persiapan terkait kemungkinan kunjungan Presiden Prabowo.
Di sisi lain, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kunjungan kenegaraan ke berbagai negara dilakukan sebagai bagian dari strategi pengamanan pasokan energi nasional, khususnya minyak mentah. Ia mencontohkan keberhasilan Indonesia dalam mengamankan stok minyak saat kunjungan ke Jepang.
Saudara-saudara, untuk amankan minyak gue harus ke mana-mana. Kita ke Jepang kemarin ya, kita dapat,” ujar Prabowo dalam taklimat Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Rabu (8/4/2026).
Sementara Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, mengungkapkan bahwa proyek Kilang Tuban berpotensi melibatkan mitra tambahan. Hal ini mengingat kebutuhan belanja modal (capex) yang sangat besar dalam pembangunan kilang tersebut.
Menurut Oki, saat ini proses Final Investment Decision (FID) oleh Rosneft masih berlangsung dan diharapkan segera mencapai tahap final. Pertamina juga terus menjajaki kemitraan strategis guna mempercepat peningkatan kapasitas kilang nasional, termasuk dalam proyek GRR Tuban.
“Karena itu kita melakukan partnerships. Saat ini statusnya sedang FID, nanti mudah-mudahan kita bisa segera menyelesaikannya dan menuju tahapan selanjutnya,” jelas Oki.
Dari sisi regulator, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, memastikan bahwa proses FID Rosneft masih berjalan pada awal 2026, meskipun target penyelesaian pada kuartal IV-2025 telah meleset.
“Masih berproses (FID Rosneft di Kilang Tuban), kita tunggu ya,” ujar Laode.
Sebagai informasi, megaproyek Kilang Tuban dengan nilai investasi sekitar US$20,7 miliar dikerjakan oleh PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP). Struktur kepemilikan terdiri dari 55% oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) sebagai anak usaha Pertamina, dan 45% oleh Rosneft Singapore Pte Ltd.
Proyek strategis nasional ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi Indonesia melalui peningkatan kapasitas pengolahan minyak domestik, meski hingga kini masih menunggu kepastian keputusan investasi akhir dari pihak mitra.[*]
*bt/kbc/nh