InfoMigas.id – Jakarta |Konsumsi LPG nasional mencapai hingga 8,6 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, sebagian besar kebutuhan masih dipenuhi melalui impor.
Menteri Energi Sumber Daya Alam dan Mineral (ESDM) Bahlil Lahaladia mengatakan tingginya impor LPG memaksa pemerintah harus mengeluarkan devisa sekitar Rp130 triliun hingga Rp140 triliun setiap tahun. Nilai tersebut berpotensi meningkat jika harga minyak dunia mengalami kenaikan.
Selain itu, pemerintah juga menanggung subsidi LPG yang nilainya mencapai sekitar Rp80 triliun hingga Rp87 triliun per tahun.
Ia menilai besarnya anggaran impor dan subsidi LPG menjadi tantangan serius bagi ketahanan energi nasional, mengutip detik.com, Jum’at, 8/5/2025.
Untuk menekan ketergantungan impor, pemerintah berencana untuk mengganti penggunaan LPG dengan Compressed Natural Gas (CNG). Saat ini, Kementerian ESDM tengah melakukan uji coba penggunaan CNG pada tabung berukuran 3 kilogram sebelum diterapkan secara luas kepada masyarakat.
Bahlil menjelaskan bahwa pemanfaatan CNG sebenarnya sudah berjalan, terutama untuk tabung ukuran 12 kilogram dan 20 kilogram yang digunakan di sektor hotel dan restoran. Menurutnya, penggunaan CNG pada sektor tersebut dinilai lebih efisien dibandingkan LPG.
Pemerintah kini menunggu hasil uji coba penggunaan CNG pada tabung 3 kilogram sebagai langkah awal konversi energi rumah tangga guna mengurangi impor LPG dan beban subsidi negara.[*]
*Kbc/dt/nh