InfoMigas.id | Iran memangkas harga minyak mentah yang ditawarkan kepada pembeli di China untuk pengiriman Juli 2026. Langkah tersebut dilakukan guna menarik minat kilang-kilang independen atau yang dikenal sebagai “teapots”, yang saat ini tengah menghadapi tekanan akibat margin pengolahan yang semakin tipis.
Berdasarkan informasi dari para pedagang yang terlibat di pasar minyak Asia, minyak mentah Iran Light untuk pengiriman Juli ditawarkan dengan diskon lebih dari US$1 per barel terhadap patokan ICE Brent. Kondisi ini berbanding terbalik dengan bulan sebelumnya ketika minyak Iran masih diperdagangkan dengan premi di atas harga acuan.
Tidak hanya Iran, harga minyak mentah ESPO asal Rusia yang dikirim dari kawasan Timur Jauh juga mengalami penurunan. Para pedagang menyebut premi minyak ESPO kini turun menjadi sekitar US$3 per barel di atas ICE Brent, dibandingkan sekitar US$6 per barel pada bulan lalu.
Kilang independen China selama ini menjadi pembeli utama minyak mentah Iran dan menyerap sekitar 90 persen ekspor minyak negara tersebut. Namun, perlambatan ekonomi dan margin pengolahan yang rendah membuat banyak kilang mengurangi tingkat operasional guna menekan kerugian.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah China sebelumnya mendorong kilang-kilang domestik untuk mempertahankan produksi bahan bakar guna mengurangi dampak gejolak pasokan akibat konflik di Timur Tengah. Namun, kebijakan tersebut dilaporkan mulai dilonggarkan setelah kerugian yang dialami kilang semakin besar.
Data perusahaan pemantau komoditas Kpler menunjukkan aliran minyak mentah Iran ke China turun menjadi sekitar 1,1 juta barel per hari pada Mei 2026. Angka tersebut menjadi level terendah sejak Januari 2025.
Pada saat yang sama, stok minyak Iran yang berada di atas kapal tanker masih relatif tinggi. Tercatat sekitar 56 juta barel minyak mentah Iran saat ini tersimpan di kapal-kapal yang beroperasi di berbagai wilayah dunia. Lebih dari 60 persen di antaranya berada di kawasan Selat Singapura dan perairan lepas pantai China.
Tingginya stok terapung tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi Iran dalam menyalurkan ekspor minyaknya di tengah melemahnya permintaan dan meningkatnya tekanan sanksi internasional.
Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir memperketat sanksi terhadap perdagangan minyak Iran sebagai bagian dari upaya menekan Teheran agar mencapai kesepakatan diplomatik terkait program nuklirnya. Salah satu target terbaru Washington adalah kilang independen besar China, Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery Co, yang diduga terlibat dalam pembelian minyak Iran.
Analis menilai kombinasi antara lemahnya margin pengolahan, tingginya stok minyak terapung, serta meningkatnya tekanan sanksi AS dapat terus memengaruhi arus perdagangan minyak Iran dan Rusia ke pasar Asia dalam beberapa bulan mendatang.
Bagi pasar global, kondisi tersebut menjadi indikator penting untuk memantau keseimbangan pasokan dan permintaan minyak mentah, terutama di kawasan Asia yang masih menjadi pusat pertumbuhan konsumsi energi dunia.[*]