InfoMigas.id – Jakarta | Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Lembaga Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) tengah melakukan uji coba tabung Compressed Natural Gas (CNG) 3 kilogram (kg) atau CNG Merah Putih, Pengujian ini dsebutkan sebagai bagian dari rencana diversifikasi energi untuk sektor rumah tangga.
Berdasarkan publikasi situs Lemigas, tabung CNG 3 kg terlihat memiliki desain berbentuk silinder dan bentuk bagian bawahnya datar. Warna tabung dominan warna putih serta dilengkapi hand guard berwarna merah yang menyatu dengan badan tabung. Tabung juga memiliki lubang ventilasi berpola sarang lebah pada sisi luar yang bertanda adanya casing pelindung.
Selain itu, katup (valve) tabung CNG memiliki desain berbeda dibandingkan katup tabung LPG 3 kg. Hingga kini, Lemigas belum mempublikasikan spesifikasi teknis maupun dimensi resmi tabung tersebut.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, sudah melihat langsung proses pengujian tabung di Laboratorium Koordinator Pengujian Pengolahan Gas Bumi Lemigas. Kunjungan ini turut dihadiri oleh perwakilan dari PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk, PT Pertamina Patra Niaga, PT Gagas Energi Indonesia, PT Pindad, dan PT Genko.
Sebelumnya, Laode memaparkan bahwa CNG Merah Putih akan menggunakan tabung CNG tipe 4, yaitu tabung berbahan baku plastic atau polimer yang diperkuat komposit dan fiberglass sehingga lebih ringan tetap mampu menahan tekanan tinggi.
kata Laode, CNG untuk keperluan rumah tangga tidak perlu mengganti kompor LPG yang telah dimiliki. Kompor eksisting dapat langsung digunakan tanpa pemasangan converter maupun perangkat tambahan lainnya.
Seabagai dukungan tahap awal implementasi program CNG, Kementerian ESDM berencana untuk mengimpor 100.000 unit tabung CNG isi 3 kg dari China. Langkah ini ditempuh karena industri nasional dinilai belum memiliki kemampuan memproduksi tabung CNG tipe 4.
“Teknologinya tinggi. Saat ini yang mampu membuat teknologi itu di luar, kita belum,” kata Laode di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, mengutip bloombergtectnoz, Senin (18/5/2026).
Kritisi Penggunaan CNG
Di sisi lain, rencana penggunaan tabung CNG 3 kg mendapat sorotan dari kalangan industri. Ketua Bidang Investasi dan Kerja Sama Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Bumi Indonesia (Aspermigas), Moshe Rizal, menilai biaya pengadaan tabung CNG akan jauh lebih mahal dibandingkan tabung LPG konvensional.
Menurut Moshe, material utama berupa carbon fiber membuat harga tabung CNG diperkirakan mencapai 10 hingga 20 kali lipat lebih mahal dibandingkan tabung LPG berbahan baja.
Katanya, Harga tabung carbon fiber itu bisa 10 hingga 20 kali lipat lebih mahal dari harga tabung LPG saat ini sehingga jumlah subsidi yang harus digelontorkan pemerintah juga semakin besar
Selain itu, dari sisi densitas energi, CNG memerlukan ruang penyimpanan sekitar 2,5 kali lebih besar dibandingkan LPG untuk menghasilkan nilai kalor yang sama.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, CNG disimpan pada tekanan sekitar 200–250 bar atau setara 3.000–3.600 psi. Sebagai perbandingan, tekanan LPG rumah tangga hanya berkisar 5–10 bar atau maksimal sekitar 18–24 bar, sedangkan LNG umumnya berada pada tekanan 2–10 bar.
Pengembangan CNG Merah Putih menjadi salah satu upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG. Namun, tantangan dari sisi teknologi, biaya investasi tabung, serta kesiapan industri dalam negeri masih menjadi faktor yang perlu diselesaikan sebelum program tersebut diterapkan secara luas.[*]
*kbc/bt/nh