InfoMigas.id | CEO QatarEnergy Saad al-Kaabi memperingatkan potensi perubahan besar di pasar gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) global. Lonjakan kebutuhan listrik dari teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pusat data, ditambah pertumbuhan konsumsi energi di Asia serta permintaan gas Eropa, dinilai dapat mengubah proyeksi surplus LNG menjadi kelangkaan pasokan pada 2030.
Al-Kaabi yang juga menjabat Menteri Energi Qatar mengatakan, sebelumnya pasar global diperkirakan akan dibanjiri pasokan LNG pada periode 2026–2029. Gelombang proyek baru kala itu menimbulkan kekhawatiran kelebihan pasokan yang berpotensi menekan harga.
Sejumlah proyek berskala besar, seperti Golden Pass LNG di Pantai Teluk Amerika Serikat serta ekspansi Lapangan Utara (North Field) Qatar, diproyeksikan menyumbang volume LNG yang signifikan ke pasar global.
“Kami selalu memperkirakan akan ada semacam kelebihan pasokan pada 2025 hingga 2030. Namun setelah itu, pasar justru berpotensi mengalami kekurangan,” ujar al-Kaabi yang dikutip Reuters, Senin (2/2/2026)
Menurut dia, proyeksi permintaan kini mengalami revisi naik, terutama didorong oleh pesatnya pertumbuhan teknologi AI dan pusat data yang membutuhkan pasokan listrik stabil sebagai beban dasar (baseload).
Al-Kaabi menegaskan, jika tren peningkatan permintaan tersebut terus berlanjut, pasar LNG global berpotensi menghadapi defisit pasokan pada 2030, bukan surplus seperti yang sebelumnya diperkirakan.
Selain itu, Eropa juga disebut kian mengukuhkan posisinya sebagai pembeli utama LNG dunia sejak menghentikan impor gas dari Rusia pascainvasi Ukraina.[*]