InfoMigas.id – Banda Aceh | Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama PT Pertamina Patra Niaga terus mempercepat dan berupaya untuk menormalkan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Provinsi Aceh, khususnya di wilayah terdampak bencana alam, yakni Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyatakan, secara umum, kondisi pasokan BBM di Aceh berada dalam keadaan aman. Bahkan, sebanyak 97 persen Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah terdampak bencana telah kembali beroperasi.
Hal itu disampaikan Wahyudi saat melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Aceh. Ia menegaskan, meskipun sejumlah infrastruktur jalan dan jembatan masih terputus akibat longsor, distribusi BBM tetap diupayakan menjangkau masyarakat hingga ke wilayah terpencil, termasuk Desa Uning Mas, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah.
“Salah satu tantangan utama di Kabupaten Bener Meriah adalah akses jalan yang masih banyak terputus, termasuk jembatan yang rusak akibat longsor. Untuk itu, selama masa tanggap darurat, Provinsi Aceh diberikan keringanan pembelian BBM bersubsidi secara manual tanpa barcode agar masyarakat tidak panik dan tetap bisa menjalankan aktivitas, termasuk menyalakan genset bantuan pemerintah,” ujar Wahyudi, Sabtu (17/1/2026).
Berdasarkan Keputusan Gubernur Aceh, masa tanggap darurat bencana telah berlangsung sejak 28 November 2025 dan saat ini memasuki tahap keempat yang berlaku mulai 9 Januari hingga 22 Januari 2026.
Hasil monitoring BPH Migas menunjukkan bahwa kebijakan keringanan pembelian Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) berjalan efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak bencana, serta mendukung percepatan pemulihan pascabencana.
Wahyudi menjelaskan, kondisi akses jalan yang masih dalam perbaikan menyebabkan mobil tangki besar belum dapat melintas, sehingga distribusi BBM ke Bener Meriah dan Aceh Tengah hanya dapat dilakukan menggunakan armada berkapasitas maksimal 8 kiloliter (KL). Untuk menjangkau desa-desa terisolasi, BBM didistribusikan menggunakan jerigen dan drum yang diangkut kendaraan double cabin 4×4.
Selain itu, Pertamina Patra Niaga juga menyiapkan hub suplai atau fuel terminal bayangan di Blang Rakal, Kabupaten Bener Meriah. BBM dari Integrated Terminal Lhokseumawe dikirim menggunakan truk tangki 16 KL, kemudian dipindahkan ke armada berkapasitas lebih kecil untuk selanjutnya disalurkan secara estafet.
“Kami meninjau langsung hub suplai di Blang Rakal. Skema ini menjadi bukti kehadiran negara dalam memastikan energi tetap tersedia di daerah terdampak bencana,” tegas Wahyudi.
Dari sisi konsumsi, kebutuhan Biosolar di Provinsi Aceh sepanjang 2025, termasuk untuk penanganan bencana, tercatat mencapai 428.324 KL. Sementara penyaluran Pertalite mencapai 576.147 KL. Selama periode bencana akhir November hingga Desember 2025, kebutuhan BBM meningkat sekitar 8 persen, meski secara nasional realisasi penyaluran masih berada di bawah kuota, yakni 95–98 persen.
Anggota Komite BPH Migas Bambang Hermanto mengapresiasi upaya PT Pertamina Patra Niaga dalam menjaga kelancaran distribusi BBM melalui berbagai moda transportasi, baik darat, laut, maupun udara, termasuk penggunaan pesawat hercules.
“Secara umum kondisi lapangan sudah hampir pulih. Namun, keringanan pembelian BBM selama masa tanggap darurat harus dimanfaatkan sesuai peruntukannya. Menjelang berakhirnya masa tanggap darurat, sosialisasi juga perlu dilakukan agar masyarakat tidak kaget,” ujarnya.
Sementara itu, Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara, Sunardi, memastikan stok BBM di Aceh dalam kondisi aman. Saat ini, ketahanan stok Biosolar mencapai lima hari dan Pertalite 5,6 hari, serta akan bertambah dengan kedatangan kapal pengangkut BBM dalam waktu dekat.
Melalui skema distribusi estafet, Pertamina Patra Niaga mengoperasikan delapan unit mobil tangki 16 KL sebagai feeder dan 10 unit mobil tangki 8 KL untuk menyuplai delapan SPBU di Bener Meriah dan Aceh Tengah. Pasokan BBM di Bener Meriah saat ini telah mencapai sekitar 85 persen dari kondisi normal, sedangkan Aceh Tengah sekitar 75 persen.
“Mudah-mudahan jika akses jalan segera pulih dan mobil tangki besar bisa masuk, distribusi BBM dapat kembali normal langsung dari Depot Lhokseumawe,” pungkas Sunardi.[*]
*ril/nh/kbc