InfoMigas.id – Jakarta | Cadangan minyak nasional kembali menjadi pembicaraan usai sikap Iran yang menutup Selat Hormuz. Penutupan ini telah berdampak pada kenaikan harga minyak mentah. Pada saat bersamaan, kekhawatiran akan pasokan minyak mentah dan produk bahan bakar minyak (BBM) pun meningkat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebukan sekitar 20%—25% minyak mentah yang diimpor oleh Indonesia melewati Selat Hormuz.
Total, Perdagangkan minyak mentah global yang melewati Selat Hormuz sebesar 20,1 juta barel per hari (bph).
Saat ini, status cadangan BBM nasional tercatat hanya cukup untuk kebutuhan selama 23 hari, Namun Bahlil juga sempat menegaskan kapasitas cadangan minyak mentah Indonesia saat ini cukup untuk 25 hari.
Jumlah cadangan minyak RI masih di bawah standar Badan Energi Nasional atau International Energy Agency (IEA) 90 hari cadangan minyak mentah atau produk BBM.
Lalu, bagaimana kondisi cadangan BBM negara Asia Tenggara ketika jalur perdagangan migas dunia tersebut ditutup?
Filipina
Pemerintah Pilipina memastikan ketersediaan cadangan BBM nasional masih cukup untuk menghadapi potensi gangguan pasokan. Data Departemen Energi Filipina per Maret 2026 menunjukkan cadangan BBM nasional cukup untuk 51,5 hari.
Rinciannya, cadangan solar tercatat sebesar 50,5 hari, minyak tanah 67,5 hari, avtur 58 hari, dan gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) sekitar 29 hari.
Thailand
Sementara itu, Thailand juga mengklaim kondisi ketahanan energi nasional tetap stabil meskipun harga minyak global mulai mengalami kenaikan moderat.
Mengutip The Government Public Relations Department Thailand, Thailand memiliki cadangan minyak mentah dan BBM yang diperkirakan cukup untuk sekitar 60 hari.
Myanmar
Myanmar memiliki cadangan sekitar 60 juta galon bensin dan hampir 70 juta galon solar, yang diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional selama sekitar 40 hari. Konsumsi BBM harian negara tersebut mencapai sekitar 3,2 juta galon.
Vietnam
Di Vietnam, data Asia Pacific Energy Research Centre (APERC) menunjukkan total stok minyak mentah dan BBM cukup untuk 56 hari.
Cadangan tersebut terdiri dari stok komersial sekitar 34 hari, stok operasional kilang selama 16 hari di fasilitas seperti Dung Quat Refinery dan Nghi Son Refinery, serta cadangan nasional pemerintah untuk produk minyak olahan sekitar enam hari.
Singapura
Berdasarkan data International Energy Agency (IEA), perusahaan pembangkit listrik di negara tersebut diwajibkan menjaga stok produk minyak setara dengan 90 hari kebutuhan.
Malaysia
Di Malaysia, IEA mencatat pemerintah mewajibkan perusahaan minyak nasional untuk memelihara cadangan operasional minyak selama 30 hari.
Brunei Darussalam
Adapun Brunei Darussalam menetapkan kewajiban cadangan operasional sekitar 31 hari yang difokuskan untuk fasilitas kilang minyak.
Laos
Untuk negara kecil seperti Laos, pemerintah menerapkan sistem dua lapisan cadangan. Perusahaan pengimpor minyak diwajibkan memiliki stok selama 21 hari, sedangkan distributor harus menjaga cadangan minimal 10 hari.
Timor Leste
Berbagai laporan menyebutkan, Timor Leste memiliki cadangan paling kecil diantara negara negera Asean. Namun Timor Leste tengah memperkuat ketahanan energi nasional melalui pembangunan infrastruktur penyimpanan BBM.
Mengutip situs perusahaan minyak nasional Timor-Leste, TIMOR GAP, pemerintah berencana membangun terminal impor BBM yang mampu menampung cadangan petroleum strategis hingga 90 hari, ditambah 30 hari stok komersial. Dengan demikian, total kapasitas penyimpanan ditargetkan mencapai sekitar 120 hari pasokan BBM.[*]