InfoMigas.id | CEO raksasa energi Arab Saudi, Aramco, Amin Nasser memperingatkan bahwa pasar minyak global dapat menjadi “bencana” jika gangguan pasokan akibat perang di kawasan Iran terus berlanjut dan menghambat jalur distribusi energi di Timur Tengah.
Pimpinan Saudi Aramco itu menyebut perusahaan berupaya mengalihkan ekspor minyak mentah melalui jalur alternatif guna menghindari rute utama di Selat Hormuz. Namun, kapasitas infrastruktur yang tersedia membuat ekspor belum dapat kembali ke tingkat normal.
Arab Saudi bersama Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait telah memangkas produksi minyak hingga sekitar 2,5 juta barel per hari sebagai dampak dari meningkatnya ketegangan dan gangguan operasional, kutip Blomberg, Rabu, 11/3/2026.
Namun , Nasser tidak mengungkapkan angka produksi terkini. Ia hanya menyebut bahwa Aramco untuk sementara tidak memanfaatkan sebagian jenis minyak berat yang biasanya diproduksi perusahaan.
“Semakin lama gangguan ini berlangsung, konsekuensinya akan sangat parah bagi pasar minyak dunia. Dampaknya bahkan bisa lebih drastis bagi ekonomi global,” ujar Nasser dalam konferensi pers.
Alihkan Ekspor ke Laut Merah
Untuk menjaga pasokan, Aramco berupaya mengalihkan pengiriman minyak dari rute biasa melalui Selat Hormuz menuju terminal di Yanbu yang berada di pesisir Laut Merah.
Minyak tersebut dialirkan melalui jaringan pipa lintas kerajaan dengan kapasitas sekitar 5 juta barel per hari. Namun kapasitas ini masih lebih kecil dibandingkan total ekspor normal Aramco yang mencapai sekitar 7 juta barel per hari.
Menurut Nasser, sebagian besar ekspor tersebut terdiri dari jenis Arab Light, yang merupakan minyak mentah paling melimpah dari Arab Saudi, serta sebagian Arab Extra Light.
Ia menambahkan bahwa perusahaan berencana meningkatkan kapasitas aliran pipa hingga sekitar 7 juta barel per hari dalam beberapa hari ke depan. Dari jumlah tersebut, sekitar 2 juta barel per hari akan disalurkan ke kilang domestik di sepanjang pantai Laut Merah.
Selain minyak mentah, Aramco juga masih mengekspor produk olahan seperti diesel dari sejumlah kilang yang beroperasi di wilayah barat kerajaan.
“Di beberapa area yang memproduksi minyak Medium dan Heavy, untuk sementara kami tidak menggunakannya karena kapasitas yang ada sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan saat ini,” kata Nasser.
Kilang Diserang Drone
Di tengah situasi tersebut, Aramco juga menghadapi gangguan operasional setelah serangan drone menargetkan fasilitas energi di Arab Saudi. Serangan itu memaksa perusahaan menutup sementara salah satu kilang minyak terbesar di negara tersebut.
Pemerintah Saudi menyebut sejumlah ladang minyak juga menjadi sasaran serangan. Saat ini Aramco tengah berupaya memulihkan operasi kilang tersebut agar dapat kembali berproduksi.
Untuk menjaga stabilitas pasokan global, perusahaan memanfaatkan jaringan logistiknya di berbagai negara, termasuk fasilitas penyimpanan minyak di luar Arab Saudi, guna memenuhi permintaan pasar internasional.
Jika konflik di kawasan terus berlanjut, para pelaku industri energi memperkirakan tekanan terhadap pasokan minyak global akan semakin besar dan berpotensi mendorong lonjakan harga energi dunia.[*]
*kbc/nh