InfoMigas.id – Jakarta | PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Patra Niaga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dan confirmation letter kontrak pembelian LPG serta minyak mentah dengan Hartree Partners LP dan Phillips 66.
Dalam kerja sama dengan Hartree Partners, Pertamina Patra Niaga menyepakati kerangka kerja sama komersial terkait penyediaan light crude untuk kebutuhan kilang nasional. Skema ini mencakup potensi pasokan minyak mentah dari Amerika Serikat maupun portofolio global Hartree.
Pasokan tersebut akan menopang kebutuhan bahan baku kilang, khususnya Kilang Cilacap dan Kilang Balikpapan, seiring peningkatan kapasitas pengolahan melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Proyek RDMP menjadi salah satu andalan Pertamina untuk meningkatkan yield produk bernilai tinggi dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Selain itu, Pertamina Patra Niaga juga menandatangani confirmation letter dengan Phillips 66 sebagai penegasan pelaksanaan kontrak pasokan LPG sepanjang 2026. Total volume kontrak LPG yang disepakati mencapai sekitar 2,2 juta metrik ton.
Kesepakatn tersebut dibuat di Washington, DC, Kamis, 19/2/2026, kutip BloombergTechnoz.
Sebelumnya, melalui PT Kilang Pertamina Internasional, Pertamina telah lebih dulu meneken nota kesepahaman pengadaan feedstock minyak dan kerja sama kilang dengan ExxonMobil Corp, KDT Global Resource LLC, serta Chevron Corp.
Rangkaian kesepakatan ini menyusul keputusan pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM yang akan mengalihkan sebagian pembelian minyak dan gas bumi (migas) ke Amerika Serikat dengan nilai mencapai US$15 miliar.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pengalihan tersebut tidak akan menambah total volume impor nasional.
“Kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara; di antaranya negara dari Asia Tenggara, Middle East, maupun beberapa negara di Afrika. Secara keseluruhan, neraca komoditas daripada pembelian BBM kita dari luar negeri itu sama. Cuma kemudian kita geser,” ujar Bahlil dalam konferensi pers dari Washington D.C., Jumat (20/2/2026).
Ia memastikan, volume impor LPG, minyak mentah, dan bensin tetap dalam jumlah yang sama. Kebijakan ini disebut sebagai langkah diversifikasi sumber pasokan sekaligus bagian dari strategi diplomasi energi tanpa mengubah struktur kebutuhan impor nasional.[*]
*kbc/nh