InfoMigas.id | Hari ketiga konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berdampak langsung pada sektor energi kawasan Timur Tengah. Sejumlah fasilitas produksi minyak dan gas terpaksa menghentikan operasi akibat serangan balasan Iran, memicu lonjakan harga energi global.
Kementerian Energi Israel pada Senin memerintahkan penutupan sementara sebagian reservoir gas alam menyusul meningkatnya serangan. Ladang gas Leviathan di lepas pantai Israel, yang dioperasikan oleh Chevron, termasuk yang terdampak. Tiga sumber kepada Reuters menyebutkan aktivitas produksi dihentikan sementara.
Selain itu, kapal produksi milik Energean yang melayani beberapa ladang gas Israel juga berhenti beroperasi. Pemerintah Israel menyatakan kebutuhan energi nasional akan dipenuhi dari sumber alternatif dan pembangkit listrik siap beralih ke bahan bakar lain bila diperlukan.
Di Qatar, Kementerian Pertahanan melaporkan dua drone menyerang fasilitas energi di Ras Laffan Industrial City dan kawasan industri Mesaieed pada Senin. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, namun otoritas menyatakan kerusakan masih dalam proses penilaian.
Pasca-serangan, QatarEnergy, salah satu produsen gas alam cair (LNG) terbesar dunia, mengumumkan penghentian sementara produksi LNG dan produk turunannya.
Di Arab Saudi, Saudi Aramco menghentikan operasi di kilang minyak Ras Tanura Refinery, kilang terbesar di kerajaan tersebut yang berkapasitas 550.000 barel per hari. Penutupan dilakukan sebagai langkah pencegahan setelah serangan drone menyebabkan kebakaran terbatas akibat puing intersepsi. Saudi Press Agency melaporkan api berhasil dipadamkan dengan cepat dan tidak ada korban.
Penutupan sejumlah fasilitas strategis tersebut langsung mendorong lonjakan harga energi global. Minyak berjangka ICE melonjak lebih dari 20 persen, kenaikan harian terbesar sejak Maret 2022. Sementara minyak mentah Brent di London diperdagangkan naik sekitar 9 persen mendekati 79 dolar AS per barel.
Ketegangan juga berdampak pada jalur pelayaran. Setidaknya tiga kapal tanker dilaporkan rusak di kawasan Teluk dan satu pelaut tewas. Data pelayaran menunjukkan lebih dari 200 kapal, termasuk tanker minyak dan gas cair, berlabuh di sekitar Selat Hormuz dan perairan sekitarnya.
Iran menyatakan telah menutup navigasi di jalur strategis tersebut. Selat Hormuz merupakan satu-satunya akses dari Teluk Persia menuju laut terbuka dan pasar global, menjadikannya salah satu chokepoint energi paling vital di dunia.
Sejumlah perusahaan pelayaran global seperti Maersk, MSC, dan Hapag-Lloyd menghentikan sementara pelayaran melalui selat tersebut dan mengalihkan rute kapal mengitari Tanjung Harapan di Afrika, yang menambah waktu dan biaya pengiriman secara signifikan.
Organisasi Maritim Internasional (IMO), badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa, mendesak perusahaan pelayaran untuk menghindari wilayah terdampak hingga situasi keamanan membaik.
Eskalasi konflik dan terganggunya infrastruktur energi di kawasan produsen utama dunia ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan global minyak dan gas, serta berpotensi menekan harga bahan bakar di berbagai negara, termasuk Indonesia.[^]
*kbc/nh