InfoMigas.id – Jakarta | Prospek penawaran blok minyak dan gas bumi (migas) Indonesia akan menghadapi persaingan yang makin ketat di tengah ketidakpastian konflik global karena itu pemerintah perlu memperkuat daya tarik investasi dengan menambah data lapangan migas yang ditawarkan kepada investor.
“(Menawarkan Blok kita) iya sah-sah saja, bukan berarti industri Migas itu akan mati. Masih banyak ada aja peminat. Cuma persaingan akan makin ketat,” kata Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal, .
“Bagaimana kita mempersiapkan penawaran blok ini, sehingga si investor itu akan lebih tertarik? Cara mempersiapkannya adalah dengan menambah data. Makin banyak data kalau kita di penawaran blok migas, makin banyak data makin mengurangi risiko. Jadi makin lebih pasti,” jelasnya.
Menurut Moshe, pengumpulan data seperti survei seismic masih bergantung kepada pihak ketiga, karena itu pemerintah juga perlu aktif berinvestasi untuk mengumpulkan dan memperbanyak data tersebut.
Selain itu, Indonesia juga perlu melakukan studi banding ke negara-negara lain yang dinilai sukses menarik minat investasi migas, seperti Malaysia dan Vietnam.
“Kalau kita lihat, Malaysia lebih sukses dari Indonesia. Vietnam juga, walaupun cadangannya sangat-sangat kecil dibandingkan dengan Indonesia. Mereka juga cukup sukses untuk menarik investasi. Indonesia harus bisa melihat itu di satu sisi,” kutip bloombergtechnoz, Sabtu, 11/4/2026
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menawarkan 10 blok migas potensial pada awal tahun ini.
Direktur Jenderal Migas ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa 10 blok tersebut merupakan bagian dari total 110 area potensi migas yang telah dipetakan pemerintah. Seluruh area itu telah melalui studi teknis oleh Badan Geologi dan Lemigas.
“Studi tersebut merupakan bagian dari peran aktif pemerintah untuk meningkatkan kualitas data migas agar calon investor lebih tertarik, khususnya dalam kegiatan eksplorasi,” ujar Laode dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (5/3/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah membuka peluang bagi investor untuk menggarap blok-blok tersebut melalui dua mekanisme, yakni penawaran langsung (direct offer) melalui studi bersama maupun melalui lelang reguler.
Proposal minat investasi untuk 10 wilayah kerja tersebut dapat disampaikan kepada Ditjen Migas mulai 1 April hingga paling lambat 10 April 2026.
“Sesuai arahan Menteri ESDM, kami memberikan kemudahan dan membuka peluang seluas-luasnya kepada perusahaan migas yang memiliki kapabilitas untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di Indonesia,” kata Laode.
Pemerintah, lanjutnya, juga berkomitmen menciptakan iklim investasi hulu migas yang lebih atraktif melalui berbagai kebijakan fiskal. Di antaranya skema bagi hasil 50:50, fleksibilitas kontrak migas dengan pilihan cost recovery maupun gross split, serta pemberian insentif untuk mendukung optimalisasi produksi.
Selain itu, pemerintah juga memberikan fasilitas pembebasan pajak tidak langsung (indirect tax) selama masa eksplorasi.
Laode menambahkan, pemerintah kini semakin proaktif dalam mempercepat proses perizinan lintas sektor serta memangkas birokrasi guna mendukung kemudahan investasi.
“Pemerintah juga melakukan eksplorasi langsung dengan pembiayaan APBN, termasuk kegiatan seismik, untuk menurunkan risiko eksplorasi dan meningkatkan daya tarik investasi migas,” ujarnya.[*]
*kbc/bt/nh