InfoMigas.id | Memasuki pekan keenam konflik Iran, kondisi sektor energi di kawasan Timur Tengah kian memburuk. Serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) dilaporkan telah merusak puluhan kilang minyak, ladang gas, pelabuhan, serta infrastruktur energi vital lainnya, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi Iran guna menekan Teheran ke meja perundingan. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah titik strategis di kawasan serta memperketat penguasaan Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dunia.
Sejumlah kilang minyak utama terdampak signifikan. Kilang Ruwais di Uni Emirat Arab, salah satu yang terbesar di dunia, terpaksa ditutup sebagai langkah pencegahan setelah serangan drone memicu kebakaran di kawasan industri. Di Arab Saudi, fasilitas pengolahan minyak mentah Ras Tanura milik Saudi Aramco sempat menghentikan operasi akibat serangan serupa, meski kini telah kembali beroperasi.
Kilang Samref di Arab Saudi, yang sebagian sahamnya dimiliki Exxon Mobil Corp., juga terdampak setelah drone jatuh di area fasilitas pada 19 Maret. Sementara itu, Bapco Energies di Bahrain melaporkan kerusakan pada kilang berkapasitas 400.000 barel per hari dan menetapkan kondisi force majeure.
Di Kuwait, kilang Mina Al-Ahmadi dan Mina Abdullah mengalami kebakaran akibat serangan drone, memaksa penghentian sementara sejumlah unit operasional. Di Irak, fasilitas Lanaz di Erbil turut menghentikan operasi setelah insiden serupa.
Sektor gas alam juga tidak luput dari dampak. Kompleks LNG Ras Laffan Industrial City di Qatar mengalami kerusakan besar akibat serangan rudal Iran. Operator energi negara, QatarEnergy, bahkan menyatakan force majeure pada sejumlah kontrak pasokan jangka panjang. Fasilitas gas-to-liquids milik Shell Plc di lokasi tersebut juga dilaporkan terdampak.
Di UEA, fasilitas pemrosesan gas terbesar di Habshan dihentikan operasinya setelah serangan memicu kebakaran. Sementara itu, ladang gas Shah dan fasilitas LNG Das Island mengalami gangguan operasional akibat keterbatasan ekspor yang dipicu pengetatan akses di Selat Hormuz.
Di Iran, ladang gas raksasa South Pars menjadi target serangan yang menyebabkan penghentian sebagian produksi. Selain itu, fasilitas gas di Isfahan turut diserang, memperburuk tekanan terhadap sektor energi domestik Iran.
Pada sektor hulu minyak, ladang Majnoon di Irak dilaporkan menjadi sasaran serangan, sementara ladang Shaybah di Arab Saudi yang berkapasitas hingga 1 juta barel per hari berulang kali menjadi target drone, meskipun belum dilaporkan mengalami kerusakan signifikan.
Eskalasi konflik ini menandai meningkatnya risiko terhadap infrastruktur energi global, sekaligus mengubah persepsi kawasan Teluk sebagai wilayah yang stabil dan aman bagi investasi energi. Para pelaku industri memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut, dampaknya terhadap pasokan minyak dan gas dunia dapat semakin dalam dan berkepanjangan.[*]
Kbc/bt/mn