InfoMigas.id | Minyak mentah dari Iran, Rusia, dan Venezuela dilaporkan menumpuk di kapal tanker yang lepas jangkar di lepas pantai China. Jumlah minyak tersebut diperkirakan mencapai hampir 40 juta barel, sehingga disebutkan sebagai salah satu stok terapung terbesar dalam beberapa waktu terakhir.
Data perusahaan intelijen pasar energi Kpler menunjukkan, jumlah minyak yang tertahan di kapal tanker itu meningkat lebih dari 17 persen dibandingkan pekan sebelum konflik di Timur Tengah pecah. Sebagian besar kargo berada di perairan sekitar China dan berpotensi menjadi cadangan pasokan bagi kilang independen di negara tersebut.
Sekitar dua pertiga dari total minyak itu berada di kapal tanker yang berlabuh di Laut Kuning, sementara sisanya tersebar di perairan Laut China Selatan. Kondisi ini menunjukkan terjadinyanya fenomena penyimpanan minyak terapung (floating storage) akibat gangguan arus perdagangan global.
Gejolak geopolitik di Nenaga Teluk turut memperparah situasi pasar energi. Konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, telah memicu0 harga minyak mentah global melonjak hingga di atas US$100 per barel, di tengah gangguan jalur pelayaran penting.
Ketegangan tersebut juga berdampak langsung pada jalur distribusi minyak dunia, terutama di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu rute pelayaran energi paling vital. Dalam beberapa hari terakhir, arus pengiriman minyak melalui selat itu dilaporkan turun drastis hingga sekitar 86 persen dari rata-rata normal akibat eskalasi konflik dan ancaman keamanan bagi kapal tanker.
Di sisi lain, lebih dari tiga perempat kapal tanker yang menganggur di perairan China diketahui membawa minyak mentah asal Iran. Namun para pedagang menyebutkan bahwa penawaran baru dari negara tersebut kini semakin terbatas seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan.
Kilang independen China—yang dikenal sebagai “teapot refineries”—selama ini menjadi pembeli utama minyak Iran karena banyak perusahaan lain menghindari transaksi tersebut akibat sanksi Amerika Serikat. Minyak dari negara yang terkena sanksi biasanya diperdagangkan dengan diskon signifikan, sehingga menarik bagi kilang kecil yang beroperasi dengan margin keuntungan tipis.
Sementara itu, dinamika geopolitik juga terjadi di Amerika Latin. Awal tahun ini, pemerintah Amerika Serikat disebut melakukan intervensi di Venezuela dan menegaskan kendali terhadap industri serta penjualan minyak negara tersebut, yang turut memengaruhi arus perdagangan minyak global.
Para analis menilai, meningkatnya volume minyak yang tertahan di laut menunjukkan bagaimana konflik geopolitik dan sanksi internasional semakin membentuk ulang jalur perdagangan energi dunia. Bagi China, stok terapung tersebut berpotensi menjadi penyangga pasokan bagi kilang swasta jika gangguan distribusi global terus berlanjut.[*]
*kbc/nh