InfoMigas.id – Jakarta | PT Pertamina Patra Niaga (PPN) memastikan produksi minyak mentah dalam negeri, baik milik pemerintah maupun milik Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), diprioritaskan untuk diolah di kilang domestik milik PT Pertamina (Persero). Langkah ini ditempuh untuk menjaga ketahanan pasokan energi nasional di tengah meningkatnya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026.
Kebijakan tersebut juga menjadi bagian dari langkah mitigasi menghadapi potensi gangguan pasokan minyak mentah global serta kenaikan harga minyak dunia akibat terganggunya jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz.
Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra mengatakan pemerintah telah memberikan dukungan agar seluruh produksi minyak mentah dalam negeri diprioritaskan untuk kebutuhan kilang domestik.
“Untuk memastikan pasokan crude ini terjamin, pemerintah memberikan dukungan kepada kami bahwa seluruh crude dalam negeri, baik yang milik pemerintah maupun KKKS swasta, diprioritaskan untuk diolah di Pertamina,” ujar Mars Ega dalam konferensi pers Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri di Rest Area KM 57, Senin (16/3/2026).
Selain itu, perseroan juga berkoordinasi dengan subholding perkapalan guna memastikan seluruh armada kapal tanker milik Pertamina dapat diprioritaskan untuk mendukung distribusi energi nasional selama periode siaga Ramadan dan Idulfitri.
Menurut Mars Ega, Pertamina akan mengerahkan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk memastikan pasokan energi tetap terjaga selama periode tersebut.
“Jadi ini akan kita kerahkan 100% sumber daya yang kita miliki untuk memastikan ketersediaan energi khususnya selama Ramadan dan Idulfitri ini,” katanya.
Saat ini, stok minyak mentah di kilang Pertamina berada pada kisaran 11 hingga 12 hari operasi dalam kondisi normal. Sementara itu, kapasitas produksi pengolahan minyak di kilang dijalankan secara maksimal dengan output sekitar 1,1 juta barel per hari (bph).
Mars Ega menjelaskan operasional kilang saat ini difokuskan pada optimalisasi tingkat produksi untuk menjaga ketersediaan BBM di pasar domestik.
“Nah, jadi kami mengutamakan availability sehingga kilang modenya adalah memaksimalkan kuantitas produksi. Saat ini berproduksi kurang lebih 1,1 juta bph,” ujarnya.
Selain stok yang tersedia di kilang, sebagian minyak mentah juga masih berada di kapal tanker yang sedang dalam perjalanan menuju fasilitas pengolahan maupun berada di fasilitas penyimpanan milik subholding hulu yang melakukan kegiatan pengeboran.
DEN Dorong Hentikan Ekspor Crude
Sementara itu, Dewan Energi Nasional (DEN) menilai ekspor minyak mentah Indonesia sebaiknya dihentikan sementara di tengah potensi pengetatan pasokan migas global.
Anggota DEN, Kholid Syeirazi mendorong agar produksi minyak mentah yang selama ini diekspor dapat diserap oleh Pertamina dengan harga yang mengikuti harga pasar internasional.
Menurut dia, kebijakan tersebut akan mendorong para KKKS untuk memasok bagiannya ke kilang domestik.
“Ini yang kita minta, kita dorong agar Pertamina mengakuisisi semua produksi minyaknya kontraktor dengan harga premium. Kalau Pertamina mau mengakuisisi dengan harga market, saya kira tidak ada isu,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan BBM nasional saat ini hanya cukup untuk sekitar 23 hari. Angka tersebut masih jauh di bawah standar ketahanan energi yang direkomendasikan International Energy Agency (IEA) yakni sekitar 90 hari.
Pemerintah pun berencana membangun tambahan tangki penyimpanan minyak mentah guna meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan volume ekspor minyak mentah Indonesia sepanjang 2025 mencapai 2,3 juta ton. Sebagian besar ekspor tersebut dikirim ke Thailand sebesar 2,02 juta ton, diikuti ke Malaysia sebesar 166 ribu ton, China sebesar 57 ribu ton, serta Singapura sekitar 54 ribu ton.
Secara historis, ekspor minyak mentah Indonesia tercatat sebesar 2,42 juta ton pada 2023, kemudian 2,16 juta ton pada 2022, dan mencapai 6,02 juta ton pada 2021.[*]
*bt/kb/nh