InfoMigas.id – Jakarta | Anak usaha Arsari Group , PT Nations Natuna Barat, mulai pembayaran perdana untuk akuisisi 75% hak partisipasi (participating interest/PI) Blok Duyung. Blok Duyung merupakan wilayah kerja migas lepas pantai Natuna yang sebelumnya dikelola Conrad Asia Energy Ltd.
Perusahaan milik adik presiden Prabowo, yaitu Hashim Djojohadikusumo tersebut telah membayarkan cicilan pertama sebesar US$5 juta atau sekitar Rp84 miliar dari total nilai transaksi US$16 juta (sekitar Rp266–268 miliar, asumsi kurs Rp16.625 per dolar AS).
Chief Executive Conrad Asia Energy, Miltos Xynogalas, menyebut pembayaran tahap awal ini menjadi tonggak penting dalam mempercepat pengembangan Lapangan Mako di Blok Duyung.
“Tahap ini membawa pengembangan lapangan Mako semakin dekat menuju realisasi dan keputusan investasi akhir (final investment decision/FID),” ujar Miltos dalam keterangan resmi yang dikutip bloombergtechnoz, Senin (23/2/2026).
Skema Pembayaran Bertahap
Berdasarkan perjanjian, total pembayaran US$16 juta akan dilakukan dalam tiga tahap, yakni US$5 juta pada tahap pertama, US$4 juta pada tahap kedua dalam 30–45 hari ke depan, serta US$7 juta pada tahap terakhir yang akan dibayarkan saat lapangan mulai berproduksi.
Produksi perdana Lapangan Mako ditargetkan pada akhir 2027, hampir satu dekade setelah penemuan lapangan tersebut.
Selain akuisisi PI, Arsari Group juga berkomitmen mendanai seluruh kebutuhan pengembangan Lapangan Mako hingga onstream pada kuartal IV-2027. Total belanja modal (capital expenditure/capex) proyek ini diperkirakan mencapai US$320 juta.
Investasi yang dikeluarkan Arsari nantinya akan dikembalikan secara bertahap oleh Conrad sesuai porsi PI setelah lapangan memasuki fase produksi.
Struktur Perusahaan dan Kepemilikan
Mengacu pada dokumen Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum, PT Nations Natuna Barat didirikan pada 9 September 2025 dengan fokus usaha pertambangan gas alam dan aktivitas konsultasi manajemen.
Hashim Djojohadikusumo menjabat sebagai direktur utama perusahaan tersebut. Sementara itu, Aryo P.S. Djojohadikusumo dan S. Indrawati Djojohadikusumo masing-masing menempati posisi direktur dan komisaris. Mayoritas saham perusahaan dipegang Hashim melalui entitas Arsari Group lainnya, PT Nations Petroleum.
Potensi dan Skema Pengembangan
Lapangan Mako memiliki sumber daya kontinjensi 2C (100%) sebesar 376 miliar kaki kubik (bcf). Pascatransaksi, Conrad akan mempertahankan 25% PI dengan hak atas gas jual bersih sebesar 63 bcf setelah bagian pemerintah, turun dari sebelumnya 76,5%.
Proyek Mako akan dikembangkan dalam dua tahap dengan enam sumur pengembangan awal yang terhubung ke mobile offshore production unit (MOPU) sewaan. Gas yang diproduksi akan dialirkan melalui pipa sepanjang 59 kilometer menuju platform KF di PSC Kakap, sebelum disalurkan ke West Natuna Transport System (WNTS).
Selanjutnya, gas akan dipasok ke pasar domestik melalui pipa cabang menuju Pulau Pemping, Riau, yang akan dibangun oleh PT PLN Energi Primer Indonesia.
Gas dari Lapangan Mako akan dijual kepada PLN Energi Primer Indonesia dengan masa kontrak hingga berakhirnya PSC Duyung pada Januari 2037. Penjualan gas dirancang pada tingkat plateau sebesar 111 BBtud atau setara 111,9 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd).
Dengan masuknya Arsari Group sebagai pemegang mayoritas PI, proyek Mako diharapkan semakin mendekati fase konstruksi dan FID, sekaligus memperkuat pasokan gas domestik dari kawasan Natuna dalam beberapa tahun mendatang.[*]