InfoMigas.id – Jakarta | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia,tengah menjajaki kemungkinan impor minyak bumi dari Brunei Darussalam sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
Penjajakan tersebut dilakukan di sela-sela pertemuan Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3) waktu setempat, saat kedua negara meneken kerja sama di bidang energi.
Bahlil menyebutkan, opsi impor dari Brunei adalah langkah strategis untuk melakukan Perluasan sumber energi (diversifikasi) pasokan minyak Indonesia. Dengan kapasitas produksi minyak Brunei yang sekitar 100.000 hingga 110.000 barel per hari, peluang kerja sama dinilai cukup menjanjikan guna menjaga stabilitas pasokan energi domestik.
“Penjajakan impor minyak bumi dari Brunei menjadi salah satu opsi strategis yang kami dorong, sekaligus memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap dalam kondisi aman,” ujar Bahlil dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (19/3/2026).
Selain impor minyak, peluang kerja sama kedua negara juga mencakup pengembangan sektor energi yang lebih luas. Delegasi Brunei menunjukkan minat untuk mempelajari diversifikasi pembangkit energi, khususnya pengembangan energi baru terbarukan (EBT).
Bahlil bilang, saat ini sekitar 99% pembangkit listrik di Brunei masih bergantung pada gas. Pemerintah Brunei berupaya mengurangi ketergantungan tersebut dengan meningkatkan porsi energi alternatif dalam bauran energinya.
“(Mereka) ingin mengurangi porsi pemanfaatan gas untuk pembangkitnya,” kata Bahlil.
Sejalan dengan itu, Brunei juga tengah merencanakan peningkatan kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional dari 1 gigawatt (GW) menjadi 5 GW dalam beberapa tahun ke depan.
Di sisi lain, Brunei juga tertarik mempelajari penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) yang telah dikembangkan oleh PT Pertamina (Persero). Teknologi ini digunakan untuk meningkatkan produksi minyak dari sumur tua.
Bahlil menyatakan Indonesia terbuka untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam implementasi teknologi tersebut. Sementara itu, perwakilan Brunei, Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi, menyebut negaranya telah memiliki pengalaman dalam teknologi water flooding dan ingin meningkatkan kemampuan melalui penerapan EOR.
“Kita percaya kita bisa belajar dari Indonesia untuk mengoperasikan EOR,” ujarnya yang dikutip katadata.co.id.
Lebih lanjut, Indonesia juga mendorong peningkatan kerja sama investasi melalui skema Koridor Ekonomi Indonesia (KEI) atau Indonesian Economic Development Corridor (IEDC). Melalui kerangka ini, Brunei didorong untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, khususnya di wilayah terpencil yang masih membutuhkan dukungan energi.
Kerja sama kedua negara juga mencakup penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui program capacity building, mulai dari sektor hulu migas hingga pelatihan auditor energi terbarukan.
Pemerintah berharap sinergi ini tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga mendorong ketahanan energi dan transisi energi yang lebih berkelanjutan di kawasan.[*]
*kd/kbc/nh