InfoMigas | Invansi gabungan antarabAmerika Serikat dan Israel terhadap Iran dipercaya berdampak pada lonjakan harga minyak mentah. Iran tercatat memproduksi sekitar 5% dari total pasokan minyak mentah global. Selain itu, posisi geografis Iran yang strategis membuat setiap eskalasi konflik berpotensi mengganggu jalur distribusi energi internasional.
Sekitar 20% aliran minyak global melewati Selat Hormuz, jalur pelayaran sempit yang berada di perairan sekitar Iran. Ancaman penutupan atau gangguan di selat tersebut segera meningkatkan premi risiko di pasar, mendorong harga minyak bergerak naik secara tajam .
Direktur Senior Pelacakan Kapal di Kpler, mengungkapkan bahwa ratusan hingga ribuan kapal mengalami gangguan navigasi sejak Jumat, ketika Israel melancarkan serangan mendadak terhadap Iran. Data lalu lintas maritim menunjukkan posisi kapal yang tidak normal dan tidak akurat.
“Lintang dan bujur yang mereka terima benar-benar salah,” ujar Gordon yang dilansir Bloomberg. Ia juga menjelaskan bahwa perangkat pengacau (spoofers) tingkat militer diduga mengintervensi sistem navigasi. Gangguan ini meningkatkan risiko kecelakaan laut, meskipun kapal umumnya memiliki sistem navigasi cadangan.
Konflik juga dinilai akan m mendorong harga minyak mentah melonjak tajam. Dalam skenario ekstrem di mana Selat Hormuz benar-benar ditutup, harga minyak diproyeksikan bisa menembus US$108 per barel.
Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa Iran masih memiliki kapasitas serangan balasan dan soliditas pengambilan keputusan domestik. Target serangan Iran sejauh ini disebut mencakup pangkalan militer AS di kawasan serta wilayah Israel. Tidak tertutup kemungkinan Teheran memperluas sasaran ke infrastruktur energi dan jalur pelayaran regional, baik secara langsung maupun melalui sekutu-sekutunya.
“Kami menilai respons Iran akan terus meningkat. Meski tak mampu menandingi superioritas militer AS, Iran dapat menimbulkan biaya signifikan dan berupaya menyeret AS ke dalam konflik berkepanjangan di kawasan,” tulis laporan Bloomberg Economics, Minggu 1 Maret 2026.
Pada perdagangan 27 Februari, harga minyak tercatat berada di level US$72,48 per barel, naik dari US$70,75 per barel sehari sebelumnya. Kenaikan tersebut mencerminkan respons awal pasar terhadap meningkatnya risiko geopolitik.[*]
*knc/nh