InfoMigas.id – Jakarta | ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) berhasil meningkatkan produksi minyak dari Sumur Banyu Urip A07 setelah melaksanakan kegiatan perawatan sumur (well service). Upaya tersebut mampu mendongkrak produksi dari sebelumnya sekitar 4.800 barel per hari (bph) menjadi 12.300 bph.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengatakan peningkatan produksi tersebut diperoleh melalui program water shut-off (WSO), yakni metode untuk mengurangi aliran air yang tidak diinginkan di dalam sumur sehingga produksi minyak dapat dimaksimalkan.
Operator Blok Cepu, EMCL, melakukan sejumlah tahapan dalam program tersebut, antara lain pemasangan bridge plug, re-perforation, serta stimulasi acidizing.
“Produksi minyak Sumur Banyu Urip A07 melonjak dari 4.800 barel minyak per hari (BOPD) menjadi 12.300 BOPD, atau meningkat sebesar 7.500 BOPD, jauh melampaui target awal sebesar 1.000 BOPD,” kata Djoko, mengutip Bloomberg Technoz, Rabu (4/3/2026).
Menurut Djoko, penerapan teknologi tersebut terbukti efektif untuk mengoptimalkan potensi sumur eksisting tanpa harus melakukan pengeboran baru. Dengan demikian, tambahan produksi dapat diperoleh lebih cepat sekaligus lebih efisien dari sisi biaya.
“Selain meningkatkan produksi, kegiatan ini juga menunjukkan efisiensi biaya dan waktu. Praktik baik seperti ini perlu direplikasi di lapangan lain untuk mempercepat pencapaian target lifting nasional serta memperkuat ketersediaan energi,” ujarnya.
Djoko menjelaskan seluruh pekerjaan dilakukan tanpa menggunakan rig (rigless), melainkan memanfaatkan unit wireline. Dari sisi anggaran, realisasi biaya kegiatan tersebut tercatat hanya sekitar 57 persen dari total anggaran yang telah disetujui.
“Keberhasilan well services Sumur Banyu Urip A07 ini menegaskan bahwa strategi optimalisasi sumur eksisting merupakan langkah konkret dan cost-effective dalam menjaga momentum peningkatan lifting minyak nasional,” kata Djoko.
Sebelumnya, SKK Migas juga meminta operator Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited, untuk menunda jadwal penghentian sementara operasi (planned shutdown) Lapangan Banyu Urip yang semula direncanakan pada 2025.
Permintaan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya pemerintah menjaga capaian lifting minyak nasional. Djoko menyebutkan penghentian operasi pada 2025 berpotensi menekan produksi karena seluruh fasilitas harus ditutup sementara selama proses perawatan.
Berdasarkan perhitungan SKK Migas, lifting minyak dari Blok Cepu pada 2025 diperkirakan hanya mencapai sekitar 155 ribu barel per hari apabila planned shutdown tetap dilaksanakan pada September 2025. Namun, jika jadwal tersebut digeser ke 2026, produksi diperkirakan dapat mencapai sekitar 161,7 ribu bph.
Di sisi lain, operator blok tersebut juga tengah mendorong proyek Banyu Urip Infill Clastic (BUIC) yang menargetkan tambahan cadangan sekitar 42,92 juta barel minyak (million barrel oil/MMBO). Proyek ini dilakukan melalui pengeboran tujuh sumur baru di Lapangan Banyu Urip, terdiri dari lima sumur infill dan dua sumur clastic.
Saat ini, Lapangan Banyu Urip berkontribusi sekitar 25 persen terhadap total lifting minyak nasional. SKK Migas memperkirakan program BUIC dapat menambah produksi sekitar 20.000 hingga 30.000 barel per hari dengan potensi tambahan produksi kumulatif mencapai 40 hingga 60 juta barel.
Sepanjang paruh pertama 2025, EMCL juga dilaporkan telah menyelesaikan pengeboran tujuh sumur baru. Dengan capaian tersebut, lifting minyak dari Blok Cepu diperkirakan dapat meningkat hingga sekitar 180 ribu barel per hari pada semester II-2025.[*]