InfoMigas.id – Jakarta | Pemerintah mulai mengalihkan sebagian impor liquified petroleum gas (LPG) dari kawasan Negara Teluk ke negara lain sebagai langkah memperkuat ketahanan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebutkan, saat ini sekitar 20% impor LPG Indonesia masih berasal dari negara-negara di Timur Tengah. Tetapi, pemerintah sedang melakukan pengalihan sumber pasokan dengan menjajaki kontrak jangka panjang dari negara lain seperti Amerika Serikat dan Australia.
Bahlil bilang, Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi risiko gangguan pasokan global sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
“Dengan kondisi sekarang yang di Middle East kita pecah lagi untuk kita ambil kontrak jangka panjang dengan Amerika dan beberapa negara lain. Di akhir minggu ini kita masuk dua kargo dari Australia. Itu untuk LPG,” ujar Bahlil dalam sidang kabinet paripurna, Jumat, 13/3/2026.
Katanya, pada akhir maret ini akan impor dua kargo LPG tambahan yang masuk ke Indonesia. Sebelumnya, pada 8 Maret 2026, satu kargo LPG impor telah tiba.
“Jadi Januari, Februari, Maret, April itu Insya-Allah clear,” katanya.
Stok Energi Nasional
Dalam kesempatan yang sama, Bahlil juga membeberkan bahwa ketahanan stok LPG nasional per Jumat (13/3/2026) mencapai sekitar 15,66 hari, lebih tinggi dibandingkan batas minimum nasional sebesar yang 11,4 hari.
Selain LPG, sejumlah jenis bahan bakar minyak (BBM) juga tercatat memiliki ketahanan stok di atas batas minimum. Untuk Pertalite (RON 90), ketahanan stok nasional mencapai 24,39 hari, melampaui batas minimum 18,2 hari.
Sementara itu, Pertamax (RON 92) memiliki ketahanan stok sekitar 28,75 hari, lebih tinggi dari batas minimum 19,9 hari. Untuk Pertamax Turbo (RON 98), ketahanan stok tercatat 31,32 hari, di atas batas minimum 22,3 hari.
Pada BBM jenis Solar (CN 48), ketahanan stok nasional berada di angka 16,41 hari, sedikit di atas batas minimum 16,3 hari. Sedangkan Pertamina Dex (CN 53) memiliki ketahanan stok mencapai 46,05 hari, jauh di atas batas minimum 24,9 hari.
Adapun untuk bahan bakar penerbangan avtur, ketahanan stok nasional tercatat sekitar 38,15 hari, melampaui batas minimum 26 hari.
Pengalihan Sumber Impor Energi
Berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN) dan BPH Migas, sumber impor minyak mentah Indonesia pada 2025 berasal dari sejumlah negara mitra sehingga pasokannya relatif terdiversifikasi.
Nigeria tercatat menjadi pemasok terbesar dengan volume 34,07 juta barel atau sekitar 25% dari total impor minyak mentah Indonesia. Posisi berikutnya ditempati Angola sebesar 28,5 juta barel atau sekitar 21%, diikuti Arab Saudi sekitar 19%.
Selain itu, Indonesia juga mengimpor minyak mentah dari Brasil sekitar 9%, Australia sekitar 8%, serta beberapa negara lain seperti Gabon, Amerika Serikat, dan Malaysia.
Untuk impor BBM, data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa sepanjang 2025 Indonesia paling banyak mengimpor BBM dari Singapura dan Malaysia.
Negara lain yang turut menjadi pemasok BBM bagi Indonesia antara lain China, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab, India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.
Konsumsi Energi Saat Lebaran
Sementara itu, PT Pertamina Patra Niaga memprediksi konsumsi energi akan mengalami perubahan selama periode Idulfitri 2026.
Permintaan BBM jenis bensin diperkirakan meningkat hingga 12%, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat selama masa libur Lebaran.
Sebaliknya, konsumsi solar atau diesel diprediksi turun sekitar 14,5%. Di sisi lain, penyaluran LPG diperkirakan meningkat sekitar 4% dibandingkan hari normal.
Untuk bahan bakar penerbangan avtur, permintaan diperkirakan naik 2,8%, sementara konsumsi minyak tanah (kerosin) diprediksi meningkat sekitar 4,2% selama periode tersebut.[*]
*bt.kbc/nh