InfoMigas.id-Jakarta | Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan bahwa sumur minyak dan gas nonkonvensional (MNK) atau shale oil di Blok Rokan, Riau, telah menunjukkan hasil positif dengan produksi mencapai 500 barel minyak per hari (bph).
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengatakan capaian itu berasal dari sumur perdana yang telah dibor oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Keberhasilan tersebut menjadi landasan bagi perusahaan untuk melanjutkan program pengeboran sumur MNK lainnya di wilayah kerja itu.
Kata Djoko, satu umur yang dibor dan telah menghasilkan produksi sekitar 500 barel minyak per hari. ” Sekarang Pertamina sedang mengajukan kontrak bagi hasil yang lebih menguntungkan untuk pengembangan proyek ini,” ujar Djoko di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, mengutip bloombergtechnoz, Sabtu (6/6/2026).
Menurut Djoko, pembahasan mengenai skema kontrak baru tersebut telah dilakukan bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mempercepat pengembangan sumber daya migas nonkonvensional di Indonesia.
Sementara itu, Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menyatakan pemerintah bersama SKK Migas telah menawarkan sejumlah teknologi yang dapat digunakan PHR dalam pengembangan shale oil di Blok Rokan.
Kendati belum mengungkap identitas calon mitra strategis yang akan terlibat, namun Yuliot menyebutkan terdapat beberapa perusahaan yang telah menunjukkan minat untuk berpartisipasi dalam proyek tersebut.
“Kami sedang menyusun kerangka regulasi untuk mendukung pengembangan migas nonkonvensional. Targetnya akhir Juni sudah selesai dan dapat mulai diimplementasikan pada awal Juli,” kata Yuliot.
Katanya , kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk investor maupun penyedia teknologi sebelum memutuskan ikut terlibat dalam proyek pengembangan shale oil nasional.
Sebelumnya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sudah mengalokasikan investasi sebesar US$73,66 juta untuk mendukung program eksplorasi lanjutan migas nonkonvensional di Blok Rokan. Anggaran ini tercatat sebagai aset dalam penyelesaian pada laporan keuangan perseroan per 30 September 2025.
Dalam pengembangan proyek ini, PHR telah mengidentifikasi sumber daya migas kategori P50 sebesar 724 juta barel setara minyak (MMBOE) pada struktur North Aman yang menjadi bagian dari rencana pengembangan sumur Gulamo dan Kelok.
Corporate Secretary PHR Regional 1 Sumatra, Eviyanti Rofraida, mengatakan perusahaan saat ini tengah memasuki tahap appraisal atau pembuktian konsep guna mengonfirmasi besaran sumber daya yang telah ditemukan.
Kata EviYanti, PHR Regional 1 Sumatra tengah menyiapkan kegiatan appraisal untuk memastikan besaran sumber daya yang telah teridentifikasi.
Program appraisal dijadwalkan berlangsung pada periode 2026-2027 melalui pengeboran sejumlah sumur evaluasi. Selanjutnya, PHR akan melaksanakan pengeboran sumur demonstration pada 2027-2028 sebagai tahap uji coba pengembangan lapangan dalam skala yang lebih luas.
Pengeboran tersebut akan memanfaatkan teknologi Long Horizontal Drilling dan Multi-Stage Hydraulic Fracturing yang umum digunakan dalam pengembangan shale oil di berbagai negara.[*]
kbc/mnh