InfoMigas.id | Pasar gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) global kini menghadapi ketidakpastian baru di tengah berlanjutnya gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz. Selain konflik geopolitik di Timur Tengah, para pelaku pasar kini menyoroti dua faktor utama yang dinilai akan menentukan arah harga LNG dalam beberapa bulan ke depan, yakni permintaan China dan kondisi cuaca ekstrem di Asia.
Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia dilaporkan mengalami gangguan selama hampir tiga bulan terakhir. Kondisi tersebut telah menghambat sekitar 20 persen pasokan LNG global. Namun, berbeda dengan krisis energi sebelumnya, dampaknya terhadap harga LNG sejauh ini masih relatif terbatas.
Salah satu penyebabnya adalah melemahnya impor LNG China pada Maret dan April lalu. Akan tetapi, tren tersebut mulai berbalik. Negara yang merupakan importir LNG terbesar di dunia itu menunjukkan tanda-tanda peningkatan pembelian seiring upaya pengisian fasilitas penyimpanan dan penggantian pasokan yang terganggu dari Qatar.
Analis energi MST Marquee, Saul Kavonic, mengatakan dampak penuh dari penutupan Selat Hormuz belum sepenuhnya dirasakan pasar karena saat ini masih berada pada periode transisi dengan tingkat permintaan yang relatif rendah.
“Dampak penuh dari penutupan Selat Hormuz belum terasa karena kita masih berada pada periode transisi dengan permintaan yang relatif rendah. Harga LNG dapat naik hingga 50 persen lagi sampai Agustus jika selat tersebut tetap sebagian besar tertutup,” ujarnya.
Kekhawatiran pasar semakin meningkat karena prakiraan cuaca menunjukkan suhu musim panas di Asia akan berada di atas normal. Kemunculan fenomena El Niño pada periode Juni hingga Agustus diperkirakan memperkuat potensi gelombang panas yang dapat mendorong konsumsi listrik untuk pendingin udara dan meningkatkan kebutuhan gas alam.
Berdasarkan proyeksi meteorologi, Jepang diperkirakan mengalami suhu rata-rata sekitar 1,5 derajat Celsius di atas normal, sementara sebagian besar wilayah China dan Korea Selatan berpotensi mencatat suhu 0,5 hingga 1 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis.
Wilayah selatan dan barat daya China yang menjadi pusat konsumsi LNG terbesar di negara tersebut juga diperkirakan memiliki peluang tinggi mengalami suhu ekstrem selama musim panas. Kondisi itu berpotensi meningkatkan permintaan gas untuk pembangkit listrik.
Meski demikian, tingkat curah hujan dan produksi listrik tenaga air masih menjadi faktor penting yang akan menentukan besarnya kebutuhan LNG China. Jika pembangkit listrik tenaga air mampu beroperasi optimal berkat curah hujan yang memadai, ketergantungan terhadap gas dapat berkurang.
Data pengiriman menunjukkan impor LNG China mulai pulih setelah sempat merosot tajam pada awal tahun. Berdasarkan rata-rata pergerakan pengiriman selama 30 hari, penurunan impor LNG China kini kurang dari 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut membaik signifikan dari penurunan sekitar 30 persen yang tercatat pada akhir Maret.
Ahli strategi riset energi Citigroup Inc., Maggie Xueting Lin, memperkirakan permintaan LNG China akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang karena faktor musiman. Namun, pemulihan sektor industri masih tertahan oleh lemahnya pasar properti domestik.
Sementara itu, arus perdagangan LNG global mulai bergeser menuju Asia. Para pembeli di kawasan tersebut dinilai lebih agresif membayar harga premium untuk mengamankan pasokan energi. Akibatnya, pengiriman LNG ke Eropa tercatat turun lebih dari 10 persen dibandingkan tahun lalu.
Bahkan dalam dua pekan terakhir, sejumlah kargo LNG asal Amerika Serikat yang sebelumnya dijadwalkan menuju Eropa dilaporkan dialihkan ke pasar Asia yang menawarkan harga lebih tinggi.
Di sisi lain, Jepang sebagai pembeli LNG terbesar kedua di dunia diperkirakan juga akan meningkatkan pembelian LNG untuk memenuhi kebutuhan listrik selama musim panas. Beberapa pelaku pasar menilai peningkatan permintaan Jepang bahkan dapat memberikan dampak lebih besar terhadap pasar dibandingkan China.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Eropa yang saat ini tengah berupaya mengisi kembali cadangan gas menjelang musim dingin. Situasi semakin rumit karena produksi listrik tenaga air di sejumlah negara Eropa berada pada level rendah, sementara penurunan debit sungai berpotensi memengaruhi operasional pembangkit listrik tenaga nuklir.
Wakil Presiden Senior Gas dan Listrik Equinor ASA, Helle Ostergaard Kristiansen, menilai pasar gas Eropa saat ini berada dalam kondisi ketat.
“Pasokan gas fisik tidak mencukupi dan mengisi penyimpanan gas hingga tingkat yang memadai untuk musim dingin mendatang merupakan tantangan. Setiap hari konflik ini berlanjut, situasinya menjadi semakin kritis,” katanya.
Dengan kombinasi ketidakpastian geopolitik, cuaca ekstrem, dan meningkatnya persaingan antara Asia dan Eropa dalam memperoleh pasokan LNG, pasar energi global diperkirakan akan tetap menghadapi volatilitas tinggi sepanjang paruh kedua tahun ini.[*]
*bloomberg