InfoMigas.id-Jakarta | Sebanyak 20 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) tercatat menjadi tulang punggung produksi minyak, kondensat, dan natural gas liquids (NGL) nasional hingga akhir Mei 2026. Data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menunjukkan, kelompok 20 KKKS terbesar tersebut menyumbang hampir 94 persen dari total produksi nasional.
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) masih menjadi produsen terbesar nasional dengan capaian produksi 131.040 bph. Posisi kedua ditempati ExxonMobil Cepu Ltd dengan produksi 129.915 bph.
Di posisi ketiga terdapat PT Pertamina EP yang membukukan produksi sebesar 73.983 bph. Sementara itu, PetroChina International Jabung Ltd menempati peringkat keempat dengan produksi 27.478 bph.
PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (ONWJ) berada di posisi berikutnya dengan produksi 26.473 bph, disusul PT Pertamina Hulu Mahakam sebesar 25.575 bph dan Medco E&P Natuna Ltd sebesar 24.023 bph.
Kontributor utama lainnya adalah PT Pertamina Hulu Energi OSES dengan produksi 18.036 bph dan PT Pertamina Hulu Sanga-Sanga sebesar 14.957 bph.
Sementara itu, kelompok produsen menengah dalam daftar 20 besar meliputi Job Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi yang memproduksikan 9.291 bph, Saka Indonesia Pangkah Ltd sebesar 8.754 bph, serta PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur sebesar 8.543 bph.
PT Bumi Siak Pusako mencatat produksi 7.352 bph, diikuti BP Berau Ltd sebesar 7.076 bph dan PT Pertamina Hulu Energi Jambi Merang sebesar 5.030 bph.
Adapun lima besar terbawah dalam daftar tersebut ditempati oleh Texcal Energy Mahato Inc dengan produksi 4.997 bph, PC Ketapang Ltd sebesar 4.833 bph, PT Imbang Tata Alam sebesar 4.654 bph, Petrogas (Basin) Ltd sebesar 4.203 bph, dan PT Medco E&P Rimau sebesar 4.039 bph.
Berdasarkan data SKK Migas, produksi minyak, kondensat, dan NGL Indonesia hingga 31 Mei 2026 mencapai 576.200 barel per hari (bph). Dari jumlah tersebut, sebanyak 540.527 bph atau sekitar 93,8 persen berasal dari 20 KKKS terbesar, sementara sisanya sebesar 35.606 bph diproduksikan oleh KKKS lainnya.
Dominasi 20 KKKS tersebut menunjukkan bahwa produksi migas nasional masih sangat bergantung pada sejumlah lapangan dan operator utama. Kinerja para kontraktor tersebut akan menjadi faktor penting dalam menentukan pencapaian target lifting migas nasional sepanjang 2026 di tengah tantangan penurunan alamiah produksi (natural decline) dan kebutuhan investasi untuk menjaga keberlanjutan produksi lapangan-lapangan eksisting.[*]
*kbc/bt/nh