InfoMigas.id – Harga minyak mentah dunia naik tajam pada perdagangan Jumat (27/2). Kenaikan akibat meningkatnya kekhawatiran atas potensi serangan Amerika Serikat (AS) pada Iran. Pergerakan harga ini terjadi setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan ketidakpuasannya terhadap proses negosiasi nuklir dengan Teheran.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 2,8% dan ditutup di atas US$67 per barel, menjadi level transaksi tertinggi sejak Agustus tahun lalu.
Sepanjang tahun berjalan, harga minyak melonjak lebih dari 15%. Lonjakan harga karena kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik terbuka di Timur Tengah. Sentimen tersebut bahkan mengalahkan ekspektasi pasar mengenai potensi kelebihan pasokan global.
Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, menilai sikap keras Trump terhadap isu nuklir Iran menjadi faktor dominan di balik lonjakan harga energi. “Presiden Trump memiliki ketidaksukaan pribadi yang sangat kuat terhadap senjata nuklir, terutama jika jatuh ke tangan Iran. Hal ini bahkan lebih krusial baginya dibandingkan kekhawatiran terhadap tingginya harga minyak,” ujarnya dalam pengarahan, Kamis (26/2).
Data dari platform prediksi pasar Polymarket menunjukkan peluang terjadinya serangan AS terhadap Iran sebelum 1 Maret meningkat menjadi 26% pada Jumat sore waktu New York, melonjak dari 9% pada awal sesi perdagangan.
Ketegangan juga meningkat setelah inspektur nuklir PBB melaporkan adanya aktivitas rutin yang tidak dapat dijelaskan di fasilitas pengayaan uranium Iran yang sebelumnya sempat dibom. Situasi ini memicu kekhawatiran akan gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
“Iran memiliki kemampuan untuk membuat Selat Hormuz tidak aman bagi pelayaran komersial dalam hitungan minggu,” kata McNally seperti dikutip Bloomberg, Sabtu, 28/2/2026.
Dampak ketidakpastian tersebut mulai terasa pada sektor pelayaran global. Dua perusahaan pelayaran besar mengumumkan pengalihan rute kapal melalui selatan Afrika, menghindari Laut Merah dan Terusan Suez untuk meminimalkan risiko serangan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Di luar faktor geopolitik, pelaku pasar juga menanti hasil pertemuan kelompok produsen minyak OPEC+ yang dijadwalkan berlangsung Minggu ini. Analis Commerzbank memperkirakan OPEC+ kemungkinan hanya akan menaikkan produksi secara terbatas mulai April.
Namun, risiko geopolitik diperkirakan tetap menjadi penopang harga dalam jangka pendek.
Pergerakan Harga Terbaru:
WTI pengiriman April naik 2,8% ke US$67,02 per barel.
Minyak mentah Brent pengiriman April ditutup di level US$72,4 per barel.
Kontrak Brent Mei yang lebih aktif menguat 2,9% dan menetap di US$72,87 per barel.
Pasar energi global kini berada dalam posisi waspada tinggi, dengan dinamika geopolitik Timur Tengah kembali menjadi penentu utama arah harga minyak dunia.[*]
*kbc/nh
*kbc/nh