InfoMigas.id – Jakarta | Praktik spekulasi perdagangan dalam impor minyak dan gas bumi (migas) dinilai akan meningkat seiring rencana Indonesia mengimpor komoditas energi dari Amerika Serikat (AS).
Pakar industri migas dari Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas), Moshe Rizal, mengingatkan bahwa celah spekulasi dapat terjadi, baik melalui skema impor langsung maupun lewat aset-aset migas luar negeri milik perusahaan energi asal negara AS.
Kata Moshe, potensi risiko muncul akibat nilai pembelian liquefied petroleum gas (LPG), minyak mentah (crude oil), dan bensin telah disepakati sebesar US$15 miliar atau sekitar Rp253,4 triliun, sedangkan kesepakatan detail terkait volume dan harga tidak ditentukan sejak awal.
Moshe menilai kondisi tersebut membuka ruang bagi spekulan untuk memanfaatkan fluktuasi harga komoditas global. “Kalau harga turun, kita bisa terkunci di harga tinggi. Kalau harga naik, bisa saja dijual lebih tinggi lagi. Ini yang berisiko merugikan,” ujar Moshe, kepada bloombergtechnoz, Kamis (26/2/2026).
Indonesia Dinilai Berisiko Dirugikan
Moshe berpandangan, skema pembelian energi tersebut berpotensi merugikan Indonesia. Pasalnya, harga komoditas migas dan produk kilang dari AS diperkirakan lebih mahal dibandingkan pasokan yang selama ini diimpor dari kawasan Timur Tengah, Afrika, maupun Asia Tenggara.
Selain faktor harga, ia juga menyoroti belum adanya kepastian volume dalam komitmen pembelian senilai US$15 miliar tersebut. Dalam kondisi harga melonjak, nilai tetap yang telah disepakati berpotensi membuat volume komoditas yang diperoleh menjadi lebih kecil.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah akan mengurangi porsi impor migas dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika seiring pengalihan pembelian ke AS. Ia menyebutkan pengurangan terbesar kemungkinan berasal dari Asia Tenggara, khususnya Singapura.
Meski demikian, Bahlil menegaskan total volume impor LPG, minyak mentah, dan bensin secara keseluruhan tidak akan mengalami peningkatan.
Rincian Komitmen Impor Energi
Berdasarkan dokumen resmi yang dirilis Gedung Putih, Indonesia berkomitmen mendukung pembelian komoditas energi dari AS dengan total nilai US$15 miliar.
Rinciannya meliputi impor LPG sebesar US$3,5 miliar, minyak mentah US$4,5 miliar, serta bahan bakar minyak (BBM) atau bensin olahan senilai US$7 miliar.
Dalam implementasinya, PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya PT Pertamina Patra Niaga telah menandatangani nota kesepahaman dan confirmation letter kontrak pembelian LPG dan minyak mentah dengan dua perusahaan AS.
Pertamina Patra Niaga menyepakati kerangka kerja sama komersial penyediaan light crude, termasuk potensi pasokan dari AS maupun portofolio global milik Hartree Partners LP. Selain itu, perusahaan juga menandatangani confirmation letter dengan Phillips 66 untuk kontrak pasokan LPG periode 2026 dengan total volume sekitar 2,2 juta metrik ton.
Di sisi lain, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) juga telah meneken nota kesepahaman pengadaan feedstock minyak dan kilang dengan ExxonMobil Corp, KDT Global Resource LLC, serta Chevron Corp.
Tren Impor Minyak Mentah
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan volume impor minyak mentah (HS 27090010) sepanjang 2025 mencapai 15,99 juta ton, meningkat dari 15,27 juta ton pada 2024.
Pada 2023, impor minyak mentah tercatat 17,03 juta ton, sementara pada 2022 sebesar 14,12 juta ton dan 2021 sebanyak 12,10 juta ton.
Dengan tren impor yang cenderung fluktuatif dan komitmen pembelian bernilai besar dari AS, sejumlah kalangan menilai pemerintah perlu memastikan skema kontrak yang transparan dan fleksibel agar tidak menimbulkan risiko kerugian di tengah dinamika harga energi global.[*]
*kbc/nh/bloomberg