InfoMigas.id | Tarif sewa kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (Very Large Crude Carrier/VLCC) melonjak sampai hampir sembilan kali lipat dari tarif patokan di tengah terbatasnya ketersediaan kapal di kawasan Teluk Persia.
Menurut sejumlah pialang kapal, sebuah VLCC yang memiliki daya angkut sekitar dua juta barel minyak mentah baru saja dipesan untuk mengangkut kargo dari Teluk Persia menuju India dengan tarif mencapai 897 poin Worldscale atau setara 897 persen dari tarif dasar yang berlaku selama ini.
Kapal tersebut dipasok oleh Sinokor, perusahaan pelayaran asal Korea Selatan. Tarif itu menjadi salah yang tertinggi sepanjang tahun 2026 Kondisi ini dinilai cerminan ketatnya pasar tanker di kawasan Timur Tengah pasca gangguan aktivitas pelayaran selama beberapa bulan terakhir.
Worldscale merupakan sistem standar internasional yang digunakan untuk menentukan tarif dasar pengangkutan minyak pada rute-rute tertentu, seperti Teluk Persia ke Singapura atau Teluk Persia ke China. Tarif sewa aktual kemudian ditentukan berdasarkan persentase dari tarif dasar tersebut.
Dalam transaksi terbaru ini, tarif yang disepakati mengacu pada rute Teluk Persia-Singapura, meskipun kapal akan digunakan untuk mengangkut minyak menuju India.
Pihak Sinokor belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi yang disampaikan melalui surat elektronik maupun sambungan telepon ke kantor perusahaan di Seoul dan Singapura, rilis Bloombergtechnoz, Rabu, 24/2026.
Sejak akhir tahun lalu, Sinokor diketahui aktif memperluas bisnis tanker minyak mentah dan menjadi salah satu pemain yang paling agresif di kawasan Teluk Persia selama periode konflik berlangsung.
Dokumen pemesanan kapal yang beredar di kalangan pialang menunjukkan perusahaan tersebut menawarkan kapal VLCC untuk memuat minyak dari Terminal Basrah, Irak, paling lambat pada 24 Juni 2026. Kapal tersebut direncanakan melintasi Selat Hormuz dalam kondisi penuh muatan, yang menunjukkan tingkat kepercayaan pemilik kapal terhadap keamanan jalur pelayaran tersebut.
Lonjakan tarif tanker terjadi setelah tercapainya kesepakatan sementara antara Iran dan Amerika Serikat pekan lalu. Kesepakatan tersebut mendorong aktivitas perdagangan minyak kembali meningkat setelah sebelumnya terganggu akibat konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026.
Para pembeli minyak kini berlomba mengamankan kapal tanker guna mengangkut kargo yang sempat tertahan selama konflik berlangsung. Pada saat yang sama, negara-negara produsen minyak di kawasan Timur Tengah juga berupaya meningkatkan ekspor untuk memenuhi permintaan pasar.
Namun demikian, ketersediaan armada tanker masih terbatas. Selama penutupan Selat Hormuz yang berlangsung sekitar tiga bulan, banyak pemilik kapal memilih mengalihkan armadanya ke rute perdagangan lain yang dianggap lebih aman.
Akibatnya, ketika aktivitas ekspor mulai pulih, jumlah kapal yang tersedia di Teluk Persia tidak cukup untuk mengimbangi lonjakan permintaan pengiriman minyak mentah. Para pelaku pasar memperkirakan dibutuhkan waktu beberapa pekan hingga armada tanker yang sebelumnya berpindah rute dapat kembali beroperasi secara normal di kawasan tersebut.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya logistik pengiriman minyak mentah global dalam jangka pendek dan menjadi faktor yang terus dipantau oleh pelaku industri energi internasional.[*]
*kbc/bt/nh