InfoMigas.id | Jakarta – Biaya pengiriman minyak mentah dari Amerika Serikat (AS) ke kawwasan Asia naik ke level tertinggi sepanjang sejarah. Hal ini terjadi ditengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Lonjakan tarif tersebut telah memicu pembatalan sejulah kesepakatan karena ongkos sewa kapal yang dinilai terlalu mahal.
Data Baltic Exchange di London menunjukkan, pada Rabu lalu, biaya menyewa kapal tanker jenis very large crude carrier (VLCC) untuk mengangkut dua juta barel minyak mentah dari Pantai Teluk AS ke China menembus lebih dari US$29 juta. Ini Harga tertinggi yang pernah tercatat. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan dua pekan sebelumnya, kutip bloomberg.
Jika dikonversi, tarif tersebut setara sekitar US$14,50 per barel, atau mendekati 20% dari harga minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) yang berada di kisaran US$75 per barel pada hari yang sama.
Kenaikan tarif pengiriman terjadi seiring melonjaknya harga minyak global setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang kemudian dibalas oleh Teheran. Konflik tersebut telah menghambat lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Pembeli Asia Beralih ke Minyak AS
Terganggunya arus pasokan dari Teluk Persia mendorong pembeli Asia mencari alternatif, termasuk minyak mentah asal AS. Namun, peningkatan permintaan ini juga diikuti lonjakan premi minyak dari Cekungan Atlantik.
Harga jenis minyak mentah AS seperti Mars Blend tercatat mengalami kenaikan premi terhadap WTI hingga level tertinggi sejak 2020, menurut data Indeks Umum. Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati seberapa lama tren ini dapat bertahan di tengah volatilitas tinggi.
Di sisi lain, lonjakan tarif angkut mulai memicu pembatalan transaksi. Menurut laporan Tankers International, sejumlah pemesanan kapal tanker super untuk memuat minyak mentah dari Pantai Teluk AS gagal terealisasi dalam 24 jam terakhir akibat perubahan tarif yang sangat cepat.
Penyuling minyak asal Thailand, PTT, sempat memesan kapal dengan tarif sekitar US$29 juta. Namun, kesepakatan tersebut akhirnya batal, berdasarkan data Tankers International. Dalam kondisi pasar yang sangat fluktuatif, pembatalan semacam ini bukan hal yang tidak lazim.
Tarif Harian Dekati Sewa Rig Lepas Pantai
Pada rute patokan industri dari Timur Tengah ke China, pendapatan kapal tanker dilaporkan melonjak hingga US$475.000 per hari. Meski demikian, realisasi pengiriman tetap terbatas akibat hambatan di Selat Hormuz.
Kelangkaan kapal tanker membuat tarif harian mendekati biaya sewa rig pengeboran lepas pantai tercanggih. Sebagai perbandingan, Transocean Ltd mengenakan tarif rata-rata sekitar US$470.000 per hari untuk rig perairan ultra-dalam pada kuartal terakhir 2025.
Lonjakan biaya logistik ini mempertegas dampak lanjutan konflik geopolitik terhadap industri energi global, mulai dari harga komoditas hingga rantai pasok. Jika gangguan di jalur utama pelayaran berlanjut, tekanan terhadap harga minyak dan potensi inflasi global diperkirakan akan semakin besar.