InfoMigas.id – Pekanbaru | Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite di Kota Pekanbaru menarik perhatian tokoh masyarakat Riau, Brigjen TNI (Purn) Edy Natar Nasution. Ia meminta PT Pertamina Patra Niaga dan Pemerintah Provinsi Riau tidak menyampaikan pernyataan yang bertentangan dengan kondisi di lapangan.
Menurut Edy, antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU menjadi bukti nyata bahwa distribusi BBM subsidi sedang bermasalah. Karena itu, ia menilai pernyataan terkait stok aman justru membingungkan masyarakat.
“Bukan membuat pernyataan yang tidak sesuai fakta di lapangan. Kalau BBM tidak langka, tidak mungkin terjadi antrean panjang di SPBU,” ujar Edy, Selasa (5/5).
Ia menegaskan, kesulitan masyarakat mendapatkan BBM dalam beberapa waktu terakhir merupakan persoalan serius yang harus segera ditangani dengan solusi konkret, bukan sekadar narasi yang menenangkan tanpa dasar kondisi riil.
Edy juga meminta seluruh pihak terkait, khususnya PT Pertamina Patra Niaga dan Pemprov Riau, untuk lebih terbuka dalam menjelaskan penyebab kelangkaan serta langkah penanganannya.
Sebagai daerah penghasil minyak bumi, Riau dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas pasokan energi. Dalam konteks ini, Edy menyoroti pentingnya keterlibatan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) sebagai produsen utama di sektor hulu.

Menurutnya, PHR harus memastikan kelancaran suplai dari sisi produksi agar tidak terjadi gangguan yang berdampak pada distribusi di hilir.
“PHR sebagai produsen hulu dan Pertamina Patra Niaga sebagai distributor harus melakukan langkah preventif agar kejadian serupa tidak terus berulang,” tegasnya.
Ia merinci sejumlah langkah yang perlu segera dilakukan, di antaranya optimalisasi pemantauan stok secara real time melalui satuan tugas (satgas), sehingga SPBU dengan kondisi kritis dapat dideteksi lebih dini.
Selain itu, PHR diminta memastikan ketersediaan pasokan di terminal BBM, khususnya di wilayah Siak, Dumai, dan Indragiri Hilir, dalam kondisi aman. Penambahan pasokan juga perlu dilakukan lebih awal, terutama menjelang periode libur panjang yang berpotensi meningkatkan konsumsi.
Edy juga menekankan pentingnya antisipasi terhadap pergeseran pola konsumsi masyarakat. Ketika harga BBM nonsubsidi meningkat, lonjakan permintaan terhadap BBM subsidi seperti pertalite dan solar harus sudah diproyeksikan sejak awal.
“Jangan menunggu kelangkaan terjadi. Harus ada cadangan pasokan yang disiapkan lebih besar,” ujarnya mengutip iniriau.
Di sisi lain, pengawasan distribusi juga dinilai perlu diperketat untuk mencegah potensi penyimpangan seperti penimbunan atau penjualan menggunakan jerigen yang kerap memicu antrean panjang di SPBU.
Ia juga mendorong peningkatan koordinasi antara perusahaan migas, pemerintah daerah, dan aparat penegak hukum, termasuk Polda Riau, guna memastikan distribusi berjalan lancar serta informasi yang disampaikan ke publik tetap akurat.
“Jangan menunggu antrean panjang baru bergerak. Koordinasi harus dilakukan sejak dini,” kata Edy.
Sebagai langkah tambahan, Pertamina juga didorong untuk mempercepat siklus pengisian ulang tangki di SPBU dengan tingkat konsumsi tinggi, guna meminimalisir kekosongan stok di lapangan.
Kelangkaan pertalite di Pekanbaru menjadi pengingat pentingnya sinergi antara sektor hulu dan hilir dalam menjaga ketahanan energi, khususnya di daerah penghasil minyak seperti Riau. Pemerintah dan pelaku industri diharapkan dapat segera mengambil langkah cepat dan terukur agar distribusi BBM kembali normal.[*]
*kbc/ir/nh