InfoMigas.id | Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, menyatakan konflik Iran telah mengubah peta industri bahan bakar fosil secara permanen dan berpotensi mempercepat transisi menuju energi terbarukan, tenaga nuklir dan elektrifikasi global.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah krisis minyak global yang mendorong harga minyak mentah acuan Brent crude oil diperdagangkan di atas 105 dolar AS per barel, sementara pasokan fisik di pasar masih terbatas.
Dikutip dari Oilprice.com, Ahad (26/4/2026), Birol menegaskan bahwa gangguan geopolitik, khususnya di kawasan strategis seperti Selat Hormuz, telah merusak kepercayaan terhadap keamanan pasokan energi berbasis fosil.
“Persepsi terhadap risiko dan keandalan energi akan berubah. Pemerintah akan meninjau ulang strategi energi mereka. Akan ada dorongan signifikan terhadap energi terbarukan, tenaga nuklir, serta percepatan elektrifikasi,” ujar Birol.
Menurutnya, perubahan tersebut berpotensi menggerus pasar utama minyak dan membawa konsekuensi jangka panjang terhadap struktur pasar energi global.
Birol juga menyoroti kebijakan energi Inggris, khususnya rencana ekspansi pengeboran minyak dan gas di Laut Utara. Ia menilai langkah tersebut tidak akan memberikan dampak signifikan dalam jangka pendek terhadap krisis pasokan saat ini.
“Proyek-proyek baru tidak akan menghasilkan volume berarti dalam waktu dekat dan tidak akan memberi perbedaan signifikan terhadap krisis ini, kecuali proyek tiebacks. Secara bisnis, ekspansi ini mungkin tidak lagi rasional,” katanya.
Sementara itu, JPMorgan menilai harga minyak berpotensi naik lebih tinggi guna menekan permintaan, sedangkan Goldman Sachs memperkirakan produksi minyak di kawasan Teluk dapat turun hingga 57 persen dibandingkan tingkat sebelum konflik.
Meski demikian, kondisi pasar saat ini dinilai lebih mencerminkan kekurangan pasokan ketimbang tanda kemunduran sistem bahan bakar fosil secara langsung. Namun, Birol menekankan bahwa krisis energi yang terjadi saat ini merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah modern.
“Ini lebih besar dari gabungan semua krisis energi terbesar sebelumnya,” ujarnya.
Dengan dinamika tersebut, arah transisi energi global diperkirakan akan semakin cepat, seiring meningkatnya kesadaran negara-negara terhadap risiko geopolitik dalam ketahanan energi mereka.[*]
*kbc/rep/nh