InfoMigas.id-Jakarta | Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi nasional pada Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,28 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi April 2026 yang tercatat 0,13 persen.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mengatakan kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 0,61 persen dengan andil terhadap inflasi nasional sebesar 0,07 persen.
Menurut Pudji, kenaikan harga BBM non-subsidi dan avtur turut memicu meningkatnya sejumlah komponen biaya transportasi, termasuk tarif angkutan udara, harga bensin, solar, serta pelumas kendaraan.
katanya, Inflasi ini disumbang oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, harga pelumas atau oli mesin, dan solar seiring meningkatnya harga BBM non-subsidi dan harga avtur.
BPS mencatat tarif angkutan udara mengalami inflasi sebesar 2,75 persen dengan andil inflasi 0,02 persen. Sementara itu, solar mencatat kenaikan harga tertinggi di kelompok transportasi dengan inflasi mencapai 4,22 persen dan andil inflasi sebesar 0,01 persen, urai Pudji pada konferensi pers, Selasa (2/6/2026).
Selain solar, pelumas atau oli mesin juga mengalami inflasi sebesar 3,85 persen dengan andil 0,01 persen. Adapun bensin mengalami inflasi sebesar 0,49 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen. Biaya pemeliharaan kendaraan turut meningkat dengan inflasi 0,7 persen dan andil 0,01 persen.
Secara keseluruhan, Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Realisasi inflasi tersebut juga melampaui proyeksi sejumlah ekonom yang sebelumnya memperkirakan inflasi bulanan hanya sebesar 0,12 persen.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 1,35 persen.
Di luar sektor transportasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan harga sebesar 0,39 persen dan andil inflasi 0,12 persen.
Komoditas yang paling dominan mendorong inflasi pada kelompok tersebut adalah cabai merah dengan andil inflasi 0,08 persen. Selain itu, minyak goreng dan bawang merah masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,04 persen. Tomat menyumbang andil inflasi 0,03 persen, sedangkan beras memberikan andil sebesar 0,02 persen.
Kenaikan harga BBM yang berdampak langsung terhadap biaya transportasi dan logistik menunjukkan masih kuatnya pengaruh sektor energi terhadap pergerakan inflasi nasional. Kondisi ini menjadi perhatian mengingat fluktuasi harga energi dapat memengaruhi biaya distribusi barang dan jasa di berbagai sektor ekonomi.[*]
*kbc/bt/mn