InfoMigas.id-Banda Aceh | “Kami meminta Bapak Menteri menunda penandatanganan Plant of Development (PoD) I sampai adanya kesepakatan antara Pemerintah Aceh dengan Mubadala Energy,” tulis Gubernur Aceh Muzakir Manaf dalam surat bernomor 500.10/2264. Surat tertanggal 27 Februari 2026 tersebut ditujuknan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahaladia.
Surat ini lahir karena terjadinya perbedaan konsep pengembangan antara Pemerintah Aceh dengan Mubadala Energy. Pemerintah Aceh menginginkan gas diproses di darat melalui Onshore Processing Facility (OPF) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, Lhokseumawe.Sedangkan Mubadala Energi selaku operator, memilih skema Floating Production Storage and Offloading (FPSO), yaitu pengolahan dilakukan di laut.
Sebelunya, konsep pengelolaan melalui skema OPF sudah disampaikan oleh pemerintah Aceh langsung kepada Mubadala Energy pada 30 Juni 2025. Dalam surat bernomor 500.10/8028 tersebut, Pemerintah Aceh meminta agar Mubadala Energy menggunakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun sebagai lokasi Onshore Processing Facility.
Alasan strategis Pemerintah Aceh adalah KEK Arun di Lhokseumawe, sudah memiliki sejumlah infrastruktur seperti kilang LNG bekas PT Arun NGL dan Pelabuhan.
Namun surat Gubernur Aceh pada 30 Juni 2025 mentah kembali sekitar delapan bulan kemudian, yaitu pada tanggal 26 Februari 2026. Dalam pertemuan yang dihadiri oleh Pemerintah Aceh , Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan managemen Mubadala Energi, diputuskan bahwa PoD I , lapangan Tangkulo Wilayah Kerja (WK) South Andaman mengunakan skema Floating Production Storage and Offloading.
Keputusan dalam pertemuan di kantor Mubadala Energi, direspon sehari setelahnya, yaitu surat permintaan penundaan persetujuan PoD I lapangan Tungkulo I,WK South Andaman.
WK South Andaman terdiri dari dua lapangan yaitu Lapngan Tangkulo dan Lapangan Layaran. Kedua lapangan ini disebutkan mememiliki potensi cadangan gas sekitar 8 triliun kaki kubik (TCF). Potensi Lapangan Layaran sebesar 6 TCF dan Lapangan Tangkulo sebesar 2 TCF. Ditargetkan, Lapangan Tangkulo mulai berproduksi dalam tahun 2028.[*]
*nasier husen