InfoMigas.id-Jakarta | Pemerintah Indonesia mengungangkapkan dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang membawa minyak mentah masih tertahan di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz. Kendala utama yang dihadapi adalah tidak adanya perusahaan asuransi yang bersedia menanggung risiko pelayaran di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Kawasan itu.
Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno mengatakan, dalam industri pelayaran internasional, aspek asuransi menjadi faktor krusial yang menentukan apakah sebuah kapal dapat beroperasi di wilayah konflik atau tidak.
kata Arif, tidak ada asuransi yang mau menanggung jika tanker masuk Selat Hormuz. “Jadi saat ini kondisinya adalah asuransi kapal tidak bersedia memberikan perlindungan jika kapal bergerak melintasi wilayah tersebut,” kata Arif di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Menurut Arif, selama kapal hanya berada dalam posisi berlabuh atau parkir di kawasan Teluk Arab, perlindungan asuransi masih berlaku. Namun, ketika kapal mulai bergerak menuju jalur pelayaran yang dinilai berisiko tinggi, perlindungan tersebut otomatis menjadi persoalan.
Kondisi ini menyebabkan banyak kapal internasional memilih menunda pelayaran melalui Selat Hormuz. Selain pertimbangan asuransi, pemilik muatan atau cargo owner juga cenderung menghindari risiko kerusakan maupun gangguan terhadap barang yang diangkut akibat potensi konflik di kawasan tersebut.
“Kalaupun ada asuransi yang bersedia, pemilik kargo juga mempertimbangkan keselamatan muatan mereka. Semua faktor itu harus selaras,” ujar Arif, mengutip kompas.com.
Arif bilang, Pemerintah Indonesia terus melakukan komunikasi diplomatik dengan pihak Iran guna memastikan kapal-kapal Indonesia dapat melintas dengan aman. Namun, dinamika politik dan keamanan di Timur Tengah yang masih memanas membuat proses tersebut belum membuahkan hasil konkret.
Sebelumnya, pemerintah menyebutkan bahwa dua kapal milik PIS, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih berada di kawasan Teluk Arab dan belum memperoleh kesempatan untuk melintasi Selat Hormuz.
Berdasarkan keterangan dari situs pencatat keberadaan kapal, yaitu vesselfinder dan marinetraffic yang dilihat pada Senin,(15/6/2026) posisi terkini PERTAMINA PRIDE berada di laut Teluk Persia.
Tanker tersebut sedang dalam status FOR ORDERS, yaitu sedang menunggu instruksi lebih lanjut dari pemilik atau pengelola untuk bergerak.
PERTAMINA PRIDE adalah tanker minyak mentah yang dibangun pada tahun 2021 dan berlayar di bawah bendera negara Singapura.
Tanker lain, yaitu GAMSUNOROjuga berada di Teluk Persia. Tanker minyak mentah ini dibangun pada tahun 2014 dan saat ini berlayar di bawah bendera Panama.
Dari sisi operasional, kedua kapal tersebut mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah. Pemerintah menilai volume tersebut masih relatif kecil dibandingkan kebutuhan energi nasional sehingga belum memberikan dampak signifikan terhadap pasokan dalam negeri.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia yang menghubungkan kawasan Teluk Arab dengan pasar global. Gangguan terhadap lalu lintas di selat tersebut berpotensi memengaruhi distribusi minyak mentah dan produk energi internasional, termasuk bagi negara-negara pengimpor seperti Indonesia.[*]