InfoMigas.id | Konflik geopolitik di kawasan Teluk Persia mulai menunjukkan dampak nyata kepada industri energi global. Exxon Mobil Corp. melaporkan kehilangan sekitar 6% produksi globalnya pada kuartal I-2026 akibat perang dikawasan Teluk.
Gangguan ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz selama lebih dari lima pekan terakhir, yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia. Kondisi tersebut berdampak langsung pada operasi Exxon di Uni Emirat Arab dan Qatar—dua negara yang berkontribusi sekitar 20% terhadap total produksi tahunan perusahaan.
Di Qatar, Exxon memiliki kepemilikan saham di kompleks LNG raksasa Ras Laffan Industrial City. Fasilitas tersebut mengalami kerusakan setelah dua train LNG terdampak serangan rudal Iran bulan lalu. Kedua jalur produksi itu biasanya menyumbang sekitar 3% dari total output global Exxon.
Pemerintah Qatar memperkirakan kerusakan tersebut dapat menyebabkan potensi kehilangan pendapatan hingga US$20 miliar per tahun, dengan waktu pemulihan yang diperkirakan mencapai tiga hingga lima tahun. Exxon sendiri menyatakan masih menunggu evaluasi lapangan untuk memastikan durasi perbaikan.
Selain tekanan pada produksi, Exxon juga memperkirakan pendapatan kuartal pertama dari divisi produk energi—yang mencakup penyulingan dan perdagangan—akan tergerus sekitar US$3,7 miliar akibat volatilitas harga dan gangguan logistik pengiriman kargo.
Chief Financial Officer Exxon, Neil Hansen, menyebutkan bahwa dampak tersebut bersifat sementara dan akan mereda seiring normalisasi pasar. Ia menegaskan bahwa aktivitas perdagangan energi tetap menunjukkan prospek profitabilitas yang kuat.
Di tengah tekanan tersebut, perusahaan masih mendapatkan bantalan dari kenaikan harga energi global. Exxon mencatat potensi tambahan keuntungan sekitar US$2,1 miliar dari minyak mentah dan US$400 juta dari gas alam.
Sementara itu, perusahaan energi Eropa, Shell Plc, juga melaporkan penurunan produksi gas kuartalan, meskipun berhasil membukukan peningkatan laba perdagangan di tengah volatilitas pasar.
CEO Exxon, Darren Woods, sebelumnya telah mendorong ekspansi agresif dengan meningkatkan produksi lebih dari 30% dalam tiga tahun terakhir hingga mendekati 5 juta barel setara minyak per hari. Untuk tahun ini, Exxon menargetkan peningkatan produksi di Cekungan Permian sebesar 12% menjadi 1,8 juta barel setara minyak per hari guna mengompensasi gangguan dari Timur Tengah.
Di sisi lain, analis dari JPMorgan Chase & Co. menilai konflik ini telah mengubah persepsi kawasan Teluk sebagai wilayah investasi yang aman. Negara-negara seperti Qatar dan Kuwait diperkirakan akan menghadapi tekanan pertumbuhan jangka pendek serta risiko penurunan investasi asing dalam jangka panjang.
Situasi ini menegaskan bahwa eskalasi geopolitik di kawasan strategis seperti Teluk Persia tidak hanya berdampak regional, tetapi juga berimplikasi luas terhadap stabilitas pasokan energi global.[*]
*kbc/bt/mn