InfoMigas.id – Jakarta | Perusahaan kilang minyak raksasa asal Jepang, Eneos Holdings Inc., mengakuisisi sejumlah aset kilang dan ritel milik Chevron Corporation di kawasan Asia Pasifik dengan nilai transaksi mencapai US$2,17 miliar atau sekitar Rp38,75 triliun.
Berdasarkan pernyataan perusahaan migas yang tercatat di Bursa Tokyo, aset yang diakuisisi meliputi kepemilikan 50 persen Chevron pada kilang minyak di Singapura beserta sejumlah aset hilir lainnya yang tersebar di Singapura, Malaysia, Filipina, Australia, dan Indonesia.
Langkah akuisisi tersebut menandai perubahan strategi bisnis Chevron di kawasan Asia Pasifik, meski perusahaan energi asal Amerika Serikat itu masih mempertahankan sejumlah aktivitas usahanya di Indonesia.
Jejak Chevron di Hulu Migas RI
Di sektor hulu migas, Chevron memiliki sejarah panjang sebagai operator Blok Rokan melalui PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) sejak 1971. Namun, pengelolaan blok minyak terbesar di Indonesia itu resmi beralih kepada PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) pada 9 Agustus 2021.
Chevron juga pernah menjadi salah satu pemegang hak partisipasi utama pada proyek Indonesia Deepwater Development (IDD), proyek gas laut dalam yang berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN).
Perusahaan tersebut sebelumnya menguasai 63 persen participating interest (PI) pada proyek IDD sebelum akhirnya memutuskan untuk melepas kepemilikannya karena dinilai tidak lagi kompetitif dalam portofolio investasi global Chevron.
Keputusan itu sempat membuat pengembangan proyek IDD mengalami ketidakpastian selama bertahun-tahun hingga akhirnya perusahaan energi Italia, Eni SpA, mengambil alih hak partisipasi yang dilepas Chevron untuk melanjutkan pengembangan proyek.
Meski mengurangi keterlibatan di sektor migas konvensional, Chevron mulai memperluas fokus bisnisnya ke sektor energi rendah karbon di Indonesia.
Pada 2023, perusahaan menjalin kerja sama dengan PT Pertamina (Persero) melalui penandatanganan Joint Study Agreement (JSA) untuk mengkaji pengembangan teknologi carbon capture and storage serta carbon capture, utilization and storage (CCS/CCUS) di Kalimantan Timur.
Chevron juga melakukan studi bersama PT Pupuk Indonesia (Persero) terkait penerapan CCS untuk mendukung dekarbonisasi industri dan pengembangan amonia rendah karbon di kawasan PT Pupuk Kalimantan Timur. Perjanjian studi tersebut ditandatangani pada Juli 2024.
Selain CCS, Chevron turut mengembangkan portofolio energi baru terbarukan melalui kerja sama panas bumi bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dan Mubadala Energy.
Ketiga perusahaan membentuk perusahaan patungan bernama Cahaya Anagata Energy (CAE) untuk mengembangkan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Kotamobagu di Sulawesi Utara. Dalam struktur kepemilikan perusahaan tersebut, PGEO menguasai 40 persen saham, sedangkan sisanya dimiliki Chevron dan mitra strategisnya.
Sebelumnya, Chevron merupakan salah satu pemain utama di industri panas bumi Indonesia melalui pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak berkapasitas 370 megawatt (MW) dan PLTP Darajat berkapasitas 240 MW di Jawa Barat.
Namun pada 2017, kedua aset tersebut dijual kepada Star Energy dalam transaksi senilai US$2,3 miliar yang juga mencakup satu aset panas bumi Chevron di Filipina.
Sementara itu, di sektor hilir, Chevron masih mempertahankan bisnis pelumas melalui PT Chevron Oil Products Indonesia. Perusahaan tersebut memasarkan berbagai produk pelumas, grease, dan coolant bermerek Caltex untuk konsumen ritel, komersial, industri, hingga sektor kelautan.
Selain bisnis pelumas, Chevron juga tetap aktif dalam perdagangan minyak mentah, produk olahan minyak bumi, bahan baku kilang, serta aspal melalui unit bisnis perdagangannya di Singapura yang memasok kebutuhan sejumlah pelanggan di Indonesia, termasuk PT Pertamina (Persero).
Akuisisi aset hilir Chevron oleh Eneos dipandang sebagai bagian dari restrukturisasi portofolio global perusahaan. Namun demikian, Chevron masih mempertahankan jejak bisnisnya di Indonesia melalui sektor energi rendah karbon, panas bumi, pelumas, dan perdagangan energi.[*]
*kbc/bt/nh