InfoMigas.id – Banda Aceh | Industri migas Aceh kembali lakukan lifting kondensat sebesar 45.508,63 barel.
Kondesat tersebut berasal dari ladang migas Wilayah Kerja (WK) A atau blok A di Aceh Timur, Aceh. Lifting ini menjadi yang perdana setelah sempat beku operasi akibat bencana pada penghujung tahun 2025 lalu.
Proses pengapalan yang dilakukan melalui Terminal PT Pertamina EP Zona I Pangkalan Susu Field , Sumatra Utara selama dua hari, dimulai pada 31 Maret 2026 dan selesai pada 1 April 2026.
Disebutkan, kondesat tersebut dijual untuk pasar domestik.
Keberhasilan ini menandai kembalinya aktivitas penyaluran energi secara bertahap dari Wilayah Kerja Aceh setelah sebelumnya mengalami gangguan akibat bencana alam.
Momentum lifting ini dinilai semakin strategis di tengah dinamika geopolitik global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada fluktuasi harga minyak dunia dan ketidakpastian pasokan energi. Dalam kondisi tersebut, keberlanjutan produksi dan lifting domestik menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas serta ketahanan energi nasional.
Kepala Divisi Operasi Produksi BPMA, Ibnu Hafizh, menyebutkan keberhasilan pengapalan kondensat Arun melalui Pangkalan Susu tidak terlepas dari kesiapan aspek komersial dan operasional yang telah dirancang sejak jauh hari.
“Pengapalan kondensat Arun di Pangkalan Susu dapat terlaksana dengan baik karena perjanjian Facility Sharing Agreement (FSA) antara Pertamina EP Pangkalan Susu dan Medco E&P Malaka telah dijajaki jauh-jauh hari. Ke depan, kesepakatan FSA ini diharapkan dapat menjadi alternatif pengapalan kondensat Blok A, khususnya pasca kejadian kebakaran tangki F-2101 yang menyebabkan terganggunya operasi transfer kondensat PT Medco E&P Malaka di Terminal Arun,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip Senin, 13/4/2026.
Ia menambahkan bahwa skema alternatif tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga fleksibilitas operasional di tengah keterbatasan fasilitas serta potensi gangguan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Sementara itu, Deputi Operasi BPMA, Muhammad Mulyawan, turut mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini mencerminkan ketangguhan operasional sektor hulu migas Aceh dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Keberhasilan lifting Blok A via terminal Pangkalan Susu ini patut diapresiasi, terutama di tengah terganggunya operasi Medco di Terminal Arun serta kondisi fasilitas yang belum beroperasi secara maksimal. Upaya mencari alternatif pengapalan menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan lifting,” katanya.
PT. Medco E&P Malaka merupakan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) WK A.
Ke depan, sinergi antara BPMA dan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) diharapkan terus diperkuat, baik dari sisi operasional maupun komersial. Hal ini penting untuk memastikan kegiatan produksi dan penyaluran energi tetap berjalan optimal meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan eksternal maupun internal.