InfoMigas.id – Jakarta | Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan sejumlah kebijakan baru guna mengamankan pasokan liquefied petroleum gas (LPG) di tengah tekanan geopolitik global. Kebijakan ini disampaikan dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, bertujuan sebagai langkah mitigasi menjaga ketersediaan energi nasional.
Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas), Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam, mengungkapkan terdapat tiga kebijakan utama yang kini diterapkan pemerintah.
Pertama, pemerintah mulai mengatur konsumsi LPG agar tetap dalam batas wajar dan bijak. Ditjen Migas telah menerbitkan surat terkait pengendalian konsumsi, meski detail teknis implementasinya belum dipaparkan secara rinci.
Kedua, optimalisasi produksi LPG dari kilang domestik terus didorong. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui proyek RDMP Balikpapan, dengan mengalihkan sebagian produksi propylene menjadi LPG. Langkah ini dilakukan dengan menggeser penggunaan bahan baku nafta guna meningkatkan output LPG, meskipun produk propylene memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Ketiga, pemerintah menginstruksikan kilang LPG swasta untuk memprioritaskan penjualan kepada PT Pertamina Patra Niaga. Kebijakan ini bertujuan memastikan distribusi LPG, khususnya subsidi 3 kilogram, tetap terjaga untuk kebutuhan masyarakat.
“Kami instruksikan kilang LPG swasta agar memprioritaskan penawaran ke Pertamina Patra Niaga. Sebelumnya produksi lebih banyak diserap industri, kini diarahkan untuk kebutuhan domestik,” ujar Rizwi, dikutip Selasa, 14/4/2026.
Selain itu, pemerintah juga tengah mendiversifikasi sumber pasokan LPG dengan menjajaki impor dari kawasan Asia dan ASEAN, sebagai alternatif di luar ketergantungan terhadap Timur Tengah.
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan kondisi stok energi nasional saat ini relatif aman. Ia menyebutkan bahwa fase kritis akibat gejolak global telah berhasil dilewati, dengan cadangan bahan bakar minyak (BBM) berada di atas 20 hari dan LPG di atas 10 hari. “Ketahanan energi kita saat ini cukup baik. Masa kritis akibat dinamika global sudah kita lewati,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, kutip portal bisnis.
Meski demikian, pemerintah tetap mengimbau masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak guna menjaga stabilitas pasokan dalam negeri, khususnya di tengah ketidakpastian geopolitik global yang masih berpotensi memengaruhi rantai pasok energi.[*]