InfoMigas.id | Jakarta – Praktik mencampur bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax masih kerap dilakukan oleh sebagian pemilik masyarakat. Tujuannya beragam, mulai dari menghemat biaya hingga berharap memperoleh kualitas bahan bakar yang lebih baik tanpa harus sepenuhnya beralih ke BBM beroktan lebih tinggi.
Namun, apakah pencampuran kedua jenis BBM tersebut aman bagi kendaraan dan memberikan manfaat yang signifikan?
Sebagaimana diketahui, Pertalite memiliki Research Octane Number (RON) 90, sedangkan Pertamax memiliki RON 92. Perbedaan jumlah oktan tersebut berpengaruh terhadap kualitas pembakaran di ruang mesin dan performa kendaraan.
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cuk Supriyadi Ali Nandar, mengatakan bahwa secara umum pencampuran Pertalite dan Pertamax tidak menimbulkan masalah serius bagi mesin kendaraan.
“Pada dasarnya, pencampuran kedua bahan bakar ini akan berpengaruh terhadap angka RON, yang nilainya bergantung pada rasio konsentrasi keduanya,” ujar Supriyadi seperti dikutip dari Kompas.com, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, kendaraan yang direkomendasikan menggunakan bahan bakar beroktan tinggi tetap akan memperoleh manfaat dari peningkatan nilai oktan hasil pencampuran. Namun, kualitasnya belum tentu mencapai standar yang disarankan pabrikan.
Sebaliknya, pada kendaraan yang dirancang menggunakan RON 90, campuran Pertalite dan Pertamax dapat memberikan sedikit peningkatan performa. Meski demikian, efek penghematan konsumsi bahan bakar dinilai tidak terlalu signifikan.
“Penghematan bahan bakar umumnya tidak dapat dirasakan secara langsung kecuali melalui pengukuran konsumsi bahan bakar, karena perubahan angka oktan yang tidak cukup signifikan,” katanya.
Supriyadi juga menegaskan bahwa penggunaan campuran Pertalite dan Pertamax dalam jangka panjang umumnya tidak menyebabkan kerusakan mesin. Namun, untuk kendaraan dengan rasio kompresi tinggi yang membutuhkan BBM RON 92 hingga RON 95, penggunaan campuran dapat menurunkan efisiensi pembakaran dan berpotensi memicu gejala knocking atau ngelitik ringan.
Sementara itu, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, menjelaskan bahwa pencampuran Pertalite dan Pertamax dengan komposisi seimbang akan menghasilkan BBM dengan angka oktan sekitar RON 91.
“Kalau dicampur 50 banding 50, jadi RON 91. Keduanya tidak sesuai dengan standar masing-masing bensin. Akibatnya, kualitas pembakaran menurun dan performa mesin bisa terganggu,” ujarnya.
Menurut Jayan, dampak penggunaan BBM campuran sangat bergantung pada spesifikasi mesin kendaraan. Pada kendaraan yang biasa menggunakan Pertalite, peningkatan nilai oktan dapat memberikan sedikit keuntungan dari sisi performa.
Namun, bagi kendaraan yang direkomendasikan menggunakan Pertamax, penggunaan campuran justru berpotensi menurunkan performa dan efisiensi mesin karena angka oktannya tidak lagi sesuai dengan kebutuhan desain mesin.
Pengamat otomotif menilai, cara terbaik untuk menjaga performa kendaraan tetap optimal adalah menggunakan BBM sesuai rekomendasi pabrikan. Selain menjaga efisiensi pembakaran, penggunaan bahan bakar yang tepat juga dapat membantu mengurangi emisi dan memperpanjang usia komponen mesin.
Dengan demikian, meskipun mencampur Pertalite dan Pertamax relatif aman dilakukan, manfaat yang diperoleh tidak selalu sebanding dengan harapan pengguna, terutama bagi kendaraan yang membutuhkan bahan bakar beroktan tinggi sesuai spesifikasi teknisnya.[*]
*kbc/nh