InfoMigas.id-Jakarta | Usaha global untuk mengurangi pembakaran gas (gas flaring) di industri minyak dan gas kembali alami kemunduran. Bank Dunia mengumumukan volume gas yang dibakar di seluruh dunia justru meningkat 6% sepanjang 2025 menjadi 167 miliar meter kubik, padahal selama bertahun-tahun industri migas dan berbagai pemerintah telah berkomitmen menghentikan praktik tersebut.
Volume gas yang dibakar itu setara dengan sekitar setengah konsumsi gas alam tahunan Eropa. Aktivitas ini melepaskan 500 juta ton lebih emisi gas rumah kaca ke atmosfer, melampaui total emisi tahunan Inggris.
Gas flaring merupakan praktik pembakaran gas alam yang keluar bersamaan dengan produksi minyak ketika infrastruktur seperti jaringan pipa, fasilitas pengolahan, atau pasar penyerap gas belum tersedia. Selain menghasilkan emisi karbon dioksida (CO2), pembakaran juga melepaskan metana yang memiliki potensi pemanasan global jauh lebih besar dibandingkan CO2.
Bank Dunia menyebutkan gejala tersebut semakin mengkhawatirkan karena kenaikan pembakaran gas terjadi lebih cepat dibandingkan peningkatan produksi minyak untuk tahun ketiga berturut-turut. Kondisi ini menunjukkan intensitas emisi dari setiap barel minyak yang diproduksi terus meningkat.
“Tren terbaru ini mengecewakan,” kata James Turitto, Direktur Clean Air Task Force, memgutip Bloomberg, 23/6/2026.
Menurutnya, pembakaran gas merupakan pemborosan sumber daya energi yang masih bernilai ekonomi tinggi, terutama ketika dunia kembali menghadapi ketidakpastian pasokan energi.
Laporan tersebut disusun berdasarkan analisis citra satelit terhadap ribuan titik pembakaran gas di berbagai negara. Sejak metodologi pemantauan ini diterapkan pada 2012, volume pembakaran gas pada 2025 menjadi yang tertinggi kedua dalam 14 tahun terakhir, hanya berada di bawah rekor tahun 2019.
Padahal, lebih dari 50 perusahaan migas internasional telah menandatangani Oil & Gas Decarbonization Charter pada Konferensi Perubahan Iklim COP28 tahun 2023. Melalui piagam tersebut, perusahaan berkomitmen menurunkan emisi secara signifikan sekaligus menghentikan praktik pembakaran gas rutin.
Selain sektor industri, berbagai pemerintah juga telah menerbitkan regulasi untuk menekan flaring. Namun implementasinya dinilai masih belum efektif.
“Semua pihak perlu jauh lebih bertanggung jawab daripada yang telah dilakukan selama ini,” ujar John Shinn, mantan penasihat Chevron untuk isu perubahan iklim dan keberlanjutan.
Nilai Gas yang Terbuang Capai US$50 Miliar
Bank Dunia memperkirakan gas yang dibakar setiap tahun memiliki nilai ekonomi lebih dari US$50 miliar. Volume tersebut sebenarnya cukup untuk memasok energi bagi ratusan pusat data (data center) di berbagai negara.
CEO Capterio, Mark Davis, mengatakan pemborosan energi dalam skala tersebut sebenarnya dapat dicegah karena teknologi untuk memanfaatkan gas suar telah tersedia dan terbukti layak secara ekonomi.
“Skala pemborosan ini sangat mencengangkan, padahal sebagian besar dapat diatasi menggunakan teknologi yang sudah terbukti sekaligus menghasilkan keuntungan yang menarik,” katanya.
Selain kerugian ekonomi, polusi akibat pembakaran gas juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah operasi migas.
Penelitian yang diterbitkan pada 2024 oleh University of North Carolina di Chapel Hill bersama Boston University memperkirakan pembakaran dan pelepasan gas dari operasi minyak dan gas di Amerika Serikat menyebabkan sekitar 710 kematian dini, 73.000 kasus eksaserbasi asma pada anak-anak, serta kerugian kesehatan lebih dari US$7 miliar setiap tahun.
Rusia, Iran dan Irak Penyumbang Terbesar
Data Bank Dunia menunjukkan Rusia, Iran, dan Irak menyumbang sekitar separuh total pembakaran gas dunia sepanjang 2025.
Sementara Venezuela, Meksiko, Libya, Aljazair, Nigeria, dan Amerika Serikat menyumbang sekitar sepertiga sisanya.
Dari sembilan negara tersebut, Amerika Serikat menjadi satu-satunya yang berhasil menurunkan volume pembakaran gas pada tahun lalu.
Penurunan tersebut didukung beroperasinya jaringan pipa Matterhorn Express yang membuka akses pemasaran gas dari Cekungan Permian sehingga gas yang sebelumnya dibakar kini dapat dijual ke pasar.
Secara keseluruhan, pembakaran gas di Amerika Serikat turun 7% menjadi sekitar 5 miliar meter kubik. Angka tersebut 58% lebih rendah dibandingkan puncaknya saat era booming shale oil, meski relatif stabil selama satu dekade terakhir.
Kazakhstan Jadi Contoh Keberhasilan
Di tengah tren kenaikan global, Kazakhstan menjadi salah satu contoh keberhasilan pengendalian gas flaring.
Satu dekade lalu negara tersebut masuk dalam sembilan besar negara dengan pembakaran gas terbesar di dunia. Namun pemerintah menerapkan larangan melalui regulasi yang ketat serta menjatuhkan sanksi finansial kepada operator yang melanggar.
Hasilnya, Kazakhstan berhasil menurunkan pembakaran gas hingga 88% dalam sepuluh tahun terakhir, meskipun produksi minyak nasional terus meningkat.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa kombinasi regulasi yang tegas, penegakan hukum yang konsisten, serta pembangunan infrastruktur pemanfaatan gas mampu menekan pemborosan energi sekaligus mengurangi emisi dari sektor hulu migas.[*]
*kbc/bt/nh